Tuesday, October 2, 2012

SIGI OH SIGI


namamu Lindu
getar itu
rapuh batu
kata-kata jadi kayu
jadi puisi paling sendu
hari itu

MINGGU pagi (19/08). Lantunan suara takbir berkumandang. Matahari terbit perlahan dengan gagah. Orang-orang di Kota Palu berduyun-duyun di jalan-jalan menuju mesjid dan lapangan hendak menunaikan ibadah shalat ied, merayakan hari lebaran. Sekira 50 km dari situ, di Kulawi dan sekitarnya, beberapa desa terisolir, setelah gempa besar yang terjadi saat sore jelang buka puasa terakhir (Sabtu, 18/08).

Sebuah rumah di Desa Tuva, Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Sigi

Berita saat dini hari pasca gempa dari salah satu saluran tv, ada korban jiwa, rumah-rumah rusak, banyak titik di ruas jalan poros yang menghubungkan Kota Palu dan Kecamatan Kulawi mengalami longsor parah yang membuat akses jalan terputus.

Beberapa saat setelah gempa, sempat terjadi silang pendapat dengan beberapa kawan tentang pusat gempa. Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), sebagai instansi yang berwenang memberikan informasi perihal gempa merilis laporannya. Pusat gempa, oleh BMKG terjadi di arah baratdaya, 27 km dari Kabupaten Parigi Moutong, dengan skala richter 6,2, dikedalaman 10 km. Yang itu berbeda dengan laporan United States Geological Survey (USGS), BMKG milik Amerika Serikat yang merilis pusat gempa terjadi di Kulawi, dekat Danau Lindu (di peta Google), dengan skala richter 6,3 dan dikedalaman 19,9 km.

Perbedaan data sebagai laporan itu berimplikasi pada perhatian publik, kerusakan berpusat di sekitar wilayah administrasi Kabupaten Parigi Moutong. Media-media menyebut Gempa Sulawesi Tengah. Kerabat di luar kota yang mengirim pesan atau menelepon untuk bermaaf-maafan, keterusan untuk melakukan klarifikasi berita-berita media, memastikan tak terjadi apa-apa sebelum lebaran. Yang di Kota Palu saja getarannya hebat, apalagi yang berada di pusat gempa.   

Besar kemungkinan Lembah Palu yang terkenal memiliki patahan (sesar) bernama Palu Koro yang membentang dari arah utara di laut Selat Makassar dan membelah Kota Palu hingga ke arah selatan itu, adalah penyebabnya. Sebagai gejala alam, sesar itu bergerak tidak biasa juga dangkal hari itu, dan menimbulkan apa yang di sebut orang-orang sebagai tanah goyang.

Sesar aktif itu senantiasa bergerak. Suatu kali saya pernah ke kantor BMKG di Padanjese, Kota Palu. Di kantor yang berfungsi sebagai pos pemantau gempa itu saya sempat berbincang dengan salah seorang petugas yang bekerja mengamati pergerakannya. Hampir setiap hari sesar itu bergerak namun dalam skala yang kecil dan dalam. Terasa sebagai tanah goyang atau gempa, apalagi hingga menimbulkan kerusakan, korban baik jiwa maupun bangunan, jika skala gerakannya besar dan dangkal.    

Di sepanjang perjalanan menyusuri lokasi yang semakin mendekat ke pusat gempa, sejak Kecamatan Gumbasa, situasi mulai terlihat berubah pada beberapa bangunan. Sebuah rumah rusak berat hingga rata dengan tanah di Desa Tuva, Kecamatan Gumbasa. Rumah itu dapat segera terlihat karena berada di jalan poros. Beberapa warga di sana mengatakan, rumah-rumah lain yang letaknya agak ke dalam, yang tidak berada di sisi-sisi jalan poros pun banyak yang rusak. Sehingga, pendataan harus cermat. Desa Tuva adalah desa terakhir, perbatasan antara kecamatan Gumbasa dan Kecamatan Kulawi.

Setelah Tuva, masuk ke Kecamatan Kulawi desa pertama yang akan ditemui adalah Desa Salua, desa terakhir yang dapat diakses saat itu. Titik-titik longsoran terlihat semakin sering ditemui. 3 dusun di di desa itu bangunan-bangunannya juga banyak yang rusak. Tenda-tenda darurat pengungsian didirikan. Tak sedikit warga mengungsi ke desa tetangga yang dirasakan lebih aman.

Pengungsian itu dipantik oleh kekhawatiran warga, Sungai Saluki yang bermuara di Desa Salua, ke Daerah Aliran Sungai (DAS) Miu itu debit airnya berkurang drastis –dipercaya karena tertutup longsoran pasca gempa, yang itu mengindikasikan ancaman lain: banjir bandang. Kerusakan parah terjadi di sekitar Lindu yang pasca gempa baru dapat diakses dengan menggunakan helikopter.

Belum juga setahun lewat (3 Desember 2011) dan masih lekat diingatan bagaimana banjir bandang menyapu Desa Bolapapu di Kulawi yang menimbulakn korban jiwa dan bangunan.

Ada kebutuhan mendesak bagi Sigi sebagai kabupaten paling bungsu di Sulawesi Tengah ini untuk memikirkan sacara serius dan sungguh-sungguh upaya-upaya mitigasi bencana dalam siklus pra bencana lalu tanggap darurat ketika bencana terjadi, dan pasca bencana ketika pemulihan (recovery).

Upaya-upaya itu harus didukung oleh semua pihak, baik oleh masyarakat Sigi, saudara-saudara tetangga, dan khususnya Propinsi Sulawesi Tengah, bahkan dunia internasional. Kenapa dunia? Tak lain karena ada taman nasional sebagai satu dari tinggal sedikit paru-paru dunia yang tertinggal ada di sana. Apapula hubungannya dengan tetangga seperti Poso, Donggala, Parigi Moutong, dan Kota Palu sebagai ibukota? Itu karena ada keterkaitan dan keterikatan geografis (alam) dan sosial diantara wilayah-wilayah yang sering disingkat Palapas itu.

Bagi masyarakat Sigi bentuk dukungan bagi upaya mitigasi itu tentu saja menjadi sesuatu yang terberi. Sayangnya, masih dalam duka bencana, sekaligus khidmat lebaran, beberapa hari setelah tanah goyang, gempa yang lain datang menghadang. Bencana sosial karena tawuran antar warga di Kecamatan Marawola juga meminta korban jiwa dan harta benda. Tidak saja warga di sana, tapi juga wartawan yang sedang meliput kejadian. Sungguh menyesakkan.

namamu Sigi
sesuatu padamu terberi
danau di Kulawi
dan bentang alam yang serupa nyanyi sunyi

aku mengeja pelan sepi, mareso masagena
mari bekerja keras dan bersatu
dalam ruang
dalam waktu   

kau menatap aku sambil menyeka peluh di dahi  

No comments:

Post a Comment

Terima kasih, telah berkunjung ke blog saya

Postingan Sebelumnya..