Wednesday, October 21, 2009

Membaca Plastisitas Palu dalam Kemas Kecemasan yang Membatu

500 kata untuk Ritus Plastik Kota Batu



Bisakah batu membungkus plastik? Pertanyaan sebagai peristiwa objektivasi antara batu dan plastik ini mengantar kita pada realitas yang direfleksikan Zulkifly Pagessa, pembuat naskah sekaligus sutradara dari lakon teater Ritus Plastik Kota Batu (RPKB) yang dipentaskan di Taman Budaya Palu (20/10/09), sebelum pentas di event teater Solo pada akhir Oktober ini.


Dalam permainan anak-anak yang menggunakan tangan (substitusi permainan Suten yang menggunakan jari: telunjuk, kelingking, dan ibu jari), simbol-simbol gunting, kertas, dan batu, adalah metafora lain dari objektivasi itu. Batu dapat dikalahkan oleh kertas yang membungkusnya, tapi tidak oleh gunting yang hanya bisa menang ketika vis a vis kertas.


Melacak teks dan konteks yang berupaya keras memaksimalkan pesan kegelisahan dengan tubuh sebagai teks, adalah bagian inti pesan dari objektivasi itu. Para aktor RPKB menerjemahkan adegan demi adegan dengan mekanis sembari melakukan horor psikologis pada penonton. Konteks bergerak bersama tubuh dan dimuntahkan dalam banyak statement sarkas, swing jazz, blues, dan properti penunjang kebutuhan artistik: batu-batu, plastik kemasan berukuran besar, pisau, dan kostum.


Sebagai konteks, Palu dalam RPKB didekati sebagai identitas pembentuk gagasan. Kasus Salena, bom-bom teror, kerusakan lingkungan oleh pertambangan, isu trafficking, damai semu, adalah beberapa kegelisahan itu. Dalam skala yang lebih luas, RPKB mendedahkan soal-soal ruang publik yang dikotori tidak saja oleh ritus janji pemilu, tapi juga hingga ruang privat, dan banalnya ritus sosial dan politik, tidak saja di tingkat lokal tapi juga nasional.


Absurditas (baca: batu) itu dibungkus dalam kemas kecemasan (baca: plastik) yang tentu saja plastis, artifisial. RPKB seperti sedang ingin mendekonstruksi kemasan plastis yang kita yakini sebagai kebenaran-kebenaran baru yang membungkus batu-batu. Batu disana bisa juga dipahami dalam dua perspektif, sebagai yang mendekonstruksi (dalam idiom lokal disebut Kabaga atau keras kepala) dan yang didekonstruksi (public minded, mainstream, Palu).


Saya mengamini Uun ketika muncul pertanyaan, RPKB ini, kritik ataukah otokritik. RPKB baiknya dibaca dalam dua hal itu, kritik, dan otokritik. Kritik bagi para pembuat kebijakan, termasuk para pemangku kepentingan (swasta, pers, akademisi, media, lsm, dll), juga otokritik (proses berkesenian dan seniman itu sendiri).



Realitas yang kita jalani dan konsumsi lewat media massa hari-hari ini adalah realitas yang lebih sastra dari sastra itu sendiri, lebih dramatik dari teater paling absurd dan sakit sekalipun, lebih kasat bahkan kasar dan telanjang dari pencapaian seni visual apapun. Dibutuhkan intensnya kreasi reflektif yang benar-benar mampu mengatasi absurditas keseharian itu, sekadar untuk mencerahkan kemanusiaan kita yang hari ini bergerak seperti pendulum ke arah mekanisasi yang sistemik.


Dan RPKB sukses menjadi oase ditengah banalnya seni pertunjukan di Palu yang hanya memberi kita oleh-oleh senyuman plastis hingga ketika akan berangkat tidur dan keesokannya kita bergelut dalam kecemasan-kecemasan baru, menjadi mesin-mesin.


Saya tidak begitu paham teknis dalam penggarapan sebuah karya teater. Tapi rasanya koor panggung RPKB membuat saya, seperti sedang mengalami disaat yang bersamaan Quentin Tarantino, Diana Krall, Norah Jones, BB King, Radiohead, Afrizal Malna secara serentak. Beberapa hal yang saya suka dan seringkali saya pakai untuk menertawakan diri saya sendiri yang juga plastis dan semesta yang seolah-olah ajeg, tapi sesungguhnya juga plastis.

Foto-foto: nemu

Monday, October 19, 2009

Tiga Masa Masomba

Seberapa penting Masomba bagi saya? Penting! hampir setiap hari saya datang ke Pasar yang ada karena Instruksi Presiden itu untuk belanja kebutuhan dapur dan kedai. Jaraknya yang dekat (kurang lebih 300an meter dari rumah) membuat pasar tradisional itu menjadi pilihan utama tempat saya belanja juga sebagian besar warga di Selatan dan Timur Palu.

Pada Jumat siang hingga malam (16/10/09) bagian tengah, inti bangunan pasar itu terbakar hebat. Hampir seluruh petak-petak bangunan terbakar. Padahal belum cukup setahun ketika pasar itu dilahap api (28/12/2009).

Semrawut, Becek, Bau. Khas pasar-pasar tradisional yang seringkali saya temui. Saya membayangkan sebuah pasar tradisional yang nyaman, Masomba yang tidak semrawut, tidak becek, tidak bau pasca kebakaran.

Saya tidak sedang membayangkan sebuah relokasi Masomba.

Saya mengamini istilah dalam ilmu ekonomi: mekanisme pasar. Interaksi-interaksi manusia dan barang yang berlaku disana berjalan dengan sendirinya. Membentuk habit. Itupula yang kayaknya juga terjadi pada pengelolaan pasar tradisional. Meminjam analisa Marco Kusumawijaya, pakar yang concern pada tema-tema urban, pasar mendorong terbentuknya kota.

Saya membayangkan sebuah hilir dari kerjasama yang baik antara pengelola pasar dan utamanya para penjual. Kerjasama yang bermuara pada pembeli adalah raja.



Kebakaran di Pasar Masomba (28/12/2008) yang menghabiskan sebagian bangunan dan los penjual di sisi utara pasar.



Dua bagian kontras Pasar Masomba. Pada saat normal (gambar diabadikan oleh Eddie Muchiddin pada 24/05/2009), dan pasca kebakaran dahsyat (16/10/2009) yang melahap bagian inti pasar berisi los penjual ikan, daging, sayur-mayur, grosir, dan alat-alat dapur (gambar diambil sehari setelahnya, 17/10/2009).

Thursday, December 11, 2008

Aimar

Kamis, 20 Nopember 2008. Awan hitam menggantung diudara lembah Palu siang itu. Tetapi udara diluar sana tetap saja gerah. Juga pada sebuah sudut disebuah kamar lantai dua Rumah Sakit Budi Agung.

Hari di siang yang asing itu adalah hari yang berat bagi Harry Wibowo, bapak muda beranak dua itu. Hari yang tak biasa buatnya, mungkin bagi perjalanan hidupnya. Dia dipanggil dokter ke ruang konsultasi. Lembaran kertas dibuka dihadapannya. Kop surat kertas bikin dia terang, kertas yang digenggam dokter itu adalah informasi dari laboratorium swasta.

Prosedur yang biasa dalam pemeriksaan. Harry tak berpikir macam-macam. Namun setelah dokter angkat cerita seketika suasana berubah cepat.

Harry diam. Seperti ada sesuatu yang begitu berat menimpa pundaknya. Segalanya seperti berkecamuk dalam dirinya secara bersamaan. Dokter dihadapannya yang sedang menerangkan, baginya juga seperti televisi yang suaranya dimatikan. Ruangan kecil yang tak cukup terang itu seperti membekapnya. Dua kata tertera mencolok di kertas itu dicetak kapital, miring, tebal, dan diberi garis bawah, SUSPECT LEUKEMIA. Matanya mulai berkaca-kaca.

Terinspirasi oleh nama gelandang lincah asal Argentina yang jadi idolanya, Pablo Aimar, Harry mengambil unsur vokal dari nama itu, Aimar, untuk nama anak pertamanya 5 tahun yang lalu. Lengkapnya Raihan Aimar. Dipanggil Aimar.

Tiga hari sebelumnya, Aimar yang demam dan batuk dibawa Harry ke Rumah Sakit Budi Agung. Diagnosis sementara Aimar terkena Demam Berdarah Dengue (DBD). Aimar disarankan menjalani opname. Pemeriksaan darah dilakukan. Inilah untuk pertamakalinya Dokter menaruh curiga. Sel darah putih yang mengalir ditubuh Aimar membiak pesat jauh diambang rata-rata manusia dan anak-anak seusianya. Untuk meyakinkan, dokter minta pemeriksaan lanjutan ke laboratorium swasta.

Aimar diduga kuat mengalami kanker darah, untuk menyebut penjelasan lain bagi Leukemia. Harry tak begitu tahu seluk-beluknya. Yang dia tahu penyakit itu mengerikan. Sama seperti penyakit-penyakit mematikan lainnya. Dokter memberi saran agar Aimar segera ditangani. Sayangnya, dikota Palu tak ada alat medik yang bisa memastikan jenis Leukemia yang diidap Aimar. Yang terdekat adalah Makassar. Teknik medis yang dilakukan untuk memastikan itu adalah melalui pengambilan sampel di sumsum tulang belakang penderita atau Bone Marrow Puncture (BMP). Badan si sakit ditekuk agar tulang belakang merenggang dan jarum disuntikkan kesana.

Tanpa pikir panjang, Harry memutuskan berobat lanjut ke Rumah Sakit Umum Pemerintah (RSUP) Wahidin Soedirohusodo di Makassar (22/11). Di loket registrasi dia ditanya petugas, ”yang umum atau yang Jamkesda”. Jaminan Kesehatan Daerah adalah jaminan kesehatan yang diterbitkan pemerintah daerah Sulawesi Selatan bagi keluarga miskin (Gakin) diwilayah adminsitratif Sulsel. Prosedur Gakin dari daerah diluar Sulsel juga diterima. Syaratnya, ada rujukan dari rumah sakit umum pemerintah tempat pemohon berasal. Dan Harry tak punya rujukan itu. Agar cepat ditangani, lagi-lagi, Harry tak pikir panjang. ”Yang umum”, jawabnya singkat.

Dokter yang menemuinya saat visitasi perdana memberi saran soal pengobatan Aimar dan dampak biaya yang akan ditimbulkan. ”Yang kaya saja mengeluh”, kata dokter padanya. Untuk sekali Kemoterapi bagi penderita Leukemia kata Harry bisa mencapai Rp. 1.750.000. Dokter juga menjelaskan soal bahwa tak semua obat penderita Leukemia ditanggung Jamkesda.

Seorang kerabat Harry di Makassar membantu mengurusi Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) dari kelurahan tempat dia tinggal, setelah sebelumnya mengurusi Kartu Keluarga (KK) baru untuk pengurusan Kartu Tanda Penduduk (KTP) Kota Makassar. Berbekal surat-surat itu, Harry mengantongi Jamkesda yang sangat membantunya dalam hal biaya pengobatan.

Sebelum ditangani, Harry disodori semacam surat perjanjian. Protokol yang harus disetujui keluarga atas tahapan medik yang harus dilalui pasien. Protokol itu termasuk untuk tidak ikut ke ruangan khusus waktu Kemoterapi model Intratekal dilakukan. Harry cuma bisa mendengar raung sakit anaknya dari luar ruangan.

Jenis Leukemia yang diderita Aimar adalah Leukemia limfositik akut (LLA), merupakan tipe leukemia yang paling sering terjadi pada anak-anak. Dan untuk pertamakali sejak masuk rumah sakit (04/11) Aimar menjalani Kemoterapi. Ada dua macam Kemoterapi yang akan Aimar jalani selama 3 bulan pertama sebagai fase awal. Yang pertama dengan cara Intratekal, penyuntikan pada ruas tulang belakang, kedua, melalui cairan infus.


Sehari setelahnya (05/11) Aimar terlihat payah karena pengaruh Kemoterapi yang dia jalani. Dia mengeluh sakit sekujur tubuh. Minta dipijat pelan diselangkangan. Jarum infus menancap dipunggung tangan kirinya. Tangannya yang satu memegang crayon memberi warna pada robot yang digambar Bapaknya, Harry. Sesekali Ibunya, Risma, membujuknya makan. Disekeliling ranjang, tentara-tentara dan tank mainan favoritnya, dibariskan rapi seolah-olah sedang menjaganya.

Aimar jauh dari keluarganya di Palu dan teman-teman sepermainannya di Basuki Rahmat. Keluarga dan teman-temannya yang senantiasa mendoakan kesembuhannya.

Friday, October 31, 2008

Pohon

Apa pendapatmu tentang penebangan pohon seperti pada gambar ini? (lokasi gambar berada di bundaran taman kota depan car showroom Honda Balindo, ruas jalan Monginsidi dan Hasanudin, Palu. Gambar difoto pada tanggal 31/10/2008)






Thursday, July 24, 2008

Baliho*

Selain udara, air, bunyi bising yang repetitif, ruang publik yang tercemar adalah ruang publik yang dijejali oleh kepentingan massif memperkenalkan orang, barang, institusi, atau unsur komoditif lainnya dengan tujuan meraih ekspektasi positif publik.

Salah satu media yang sering digunakan sebagai alat memperkenalkan itu bernama baliho. Media dengan ukuran fisik jauh lebih besar dibanding media-media konvensional lain seperti koran, spanduk, billboard, neonsign, poster, atau selebaran (flyer, sticker). Dimensi ukuran menjadi indikator pencitraan.

Dalam konteks ini yang terjadi adalah, seperti yang disebut Walikota Sao Paulo, Brazil, Gilberto Kassab sebagai polusi visual (Business Week, 18/06/2007). Selain Sao Paulo, “Clean City” dari iklan dan alat peraga kampanye politik juga diterapkan dibeberapa titik protokoler ruang publik Jakarta (Suara Karya, 11/08/2008). Ilustrasi Sao Paulo No Logo yang bersih dari polusi visual itu diabadikan dengan baik oleh juru potret, Tony De Marco (lihat http://www.flickr.com/photos/tonydemarco/sets/72157600075508212/)



Dunia citra menciptakan narsisme baru yang hegemonik. Realitas sosial yang cenderung vandalistik ini tumbuh bersama pencapaian mutakhir teknologi cetak dan membuat hari-hari ini ruang publik kita (baca: kota Palu) disesaki oleh alat-alat peraga pencitraan sebagai polutan-polutan baru yang menghiasi kota. Situasi chaotic itu diperparah oleh realitas politik kita terkini yang memberi peluang bagi terciptanya polusi visual diruang-ruang publik, jauh sebelum kontes politik nasional (Pemilihan Umum) dilaksanakan tahun depan (lihat bab VIII tentang kampanye, UU No. 10 tahun 2008 tentang Pemilu DPR, DPD, DPRD).

Realitas diatas mengindikasikan bahwa perkembangan baru dunia pencitraan membuat siapa saja aktor yang berkepentingan dengannya harus benar-benar memikirkan efektifitas pencitraan, dengan harapan dampak positif publik hadir sebagai umpan-balik (feedback) dan setelahnya menjadi memori kolektif.

Namun apakah kemudian publik teredukasi, well-informed, menjadi individu-individu otonom dan demokratis untuk memilah-milih keputusan politik atau konsumsi barang-jasa oleh pesan-pesan moral, himbauan, ajakan, jejak-rekam orang yang dipampang dibaliho atau media-media pencitraan lainnya? Ini belum lagi soal pilihan redaksional pencitraan yang, misalnya, berbahasa asing, kadang salah tulis, sesekali naïf.

Di jalan Mohamad Hatta sebuah plang kecil ditulis “Kawasan Bebas Spanduk”. Cara ini efektif. Tak ada spanduk yang bergelayutan disepanjang jalan itu hingga jalan Djuanda. Sayangnya, plang itu hanya untuk kategori spanduk. Baliho, neon sign, dan media lainnya tidak termasuk.

Dinamika kota membuat anasir polutif pada lingkungan (udara, air, suara) absurd untuk dihentikan. Cara alternatif untuk menekan tingkat pencemarannya adalah dengan pengelolaan kawasan hijau perkotaan. Sebaliknya pada polusi visual diruang publik, seperti pada contoh ketika kawasan bebas spanduk seperti yang diurai sebelumnya bisa dilakukan.

Pencitraan memang penting bagi yang membutuhkan. Tapi yang jauh lebih penting dari itu adalah pencitraan yang tidak polutif. Dan itu mengandaikan prasyarat adanya perbuatan kongkrit bagi publik. Ini kalau kita sama-sama bersepakat bahwa ruang publik adalah ruang yang fungsi dan manfaatnya digunakan sepenuhnya untuk kepentingan publik/warga dan bukan untuk seseorang ataupun kelompok-kelompok tertentu.

*) Tulisan ini dimuat oleh surat kabar harian Media Alkhairaat pada Jumat, 18 Juli 2008

Inset: foto-foto Tony De Marco (Sao Paulo No Logo)

Sunday, February 10, 2008

Makan Rp. 1000

Bisa apa uang seribu dijaman ketika politik ekonomi absurd. Negara memang tidak bisa diharap buat kendalikan inflasi. Bagi perokok aktif uang seribu hanya cukup buat 2 batang rokok yang dikepul selama kurang lebih 15 menit. Malah, untuk rokok-rokok dengan brand lama, dikios-kios uang seribu tak cukup buat dua batang rokok yang harganya sudah 600 atau 700 rupiah per batang.

Apalagi buat beli Kaledo. Saya baru tahu dari Kompas (10/02/08) harga seporsi Kaledo Rp. 25.000. Seribu rupiah mungkin cuma untuk hirup kuahnya.

Terus, bisa apa uang seribu di Palu jaman ketika politik ekonomi absurd. Bisa. Makan!

Bayangan uang seribu bisa makan seakan menjadi absurditas baru, lain, dijaman ketika uang seribu, sekali lagi, tak bisa berbuat macam-macam dihadapan nominal harga-harga konsumsi barang, jasa. Bayangan itu juga seringkali menuju pada anggapan salah tentang rasa. Ingatan saya jauh ke Yogya pada Sego kucing. Makanan dari nasi putih dengan lauk tempe oseng (tempe goreng yang diiris tipis), tiga-empat potong ikan teri dan sambel. Disaji dengan bungkusan daun pisang. Ueenak!

Bisa makan dengan seribu rupiah itu di Palu ada di jalan Imam Bonjol. Jangan bayangkan ada neon box atau plang bagus sebagai penanda tempat makan yang kata penjualnya orang-orang mengenal tempatnya sebagai Nasi Kuning Imam Bonjol. Diseberang.

Bedanya dengan sego kucing ada di nasi. Enak. Nasinya empuk dari beras dengan kualitas baik dan dengan kuning yang kental. Sambal dengan pedas yang pas. Tempe osengnya tore (baca: gurih). Bolehlah ikut keyword Bondan Winarno untuk itu. Maknyus!

Payung, kawan saya punya joke buat Nasi Kuning Rp. 1000 Imam Bonjol ini. ”Penjualnya insomnia.” Nasi Kuning di jalan Imam Bonjol itu memang cuma jualan diwaktu malam hingga dinihari. Kesannya memang seperti tak ada laba dari jualan Nasi Kuning sebungkus seribu rupiah itu. Tapi menurut penjualnya tetap punya keuntungan. Satu malam dia bisa menjual 100 bungkus lebih.

Jadi, kalau lapar malam-malam dan uang dikantong juga pas-pasan, meluncur saja ke Nasi Kuning Imam Bonjol.


Monday, September 24, 2007

B.G.L.P.

Saya, sebagai pengelola perpustakaan mini nemu buku di jalan tanjung tururuka nomor 27, palu, mengucapkan banyak terima kasih kepada para donatur yang sudah menyumbangkan buku-bukunya untuk program "bantu! gerakan literasi palu".















Berikut nama-nama donatur itu (update per 28/11/2007).

  • Rony Palungkun, Pegiat Penerbitan, Jakarta
  • Dendy Borman, Profesional, Jakarta
  • Kurniah Sari Dewi, Karyawan Swasta, Palu
  • Ruslan Sangadji, Jurnalis The Jakarta Post, Palu
  • Imam Sofyan, Dosen FISIP Untad, Palu
  • Yopi Rodiah, Pegiat LSM Anak Matahariku, Psikolog, Bandung
  • Ir. Mahmud Baculu, MM, Sekretaris Kabupaten Buol, Buol
  • Agustina Baculu, Pustakawan, Palu
  • Intan Yusan Septiani, Jurnalis Tabloid Nova, Jakarta
  • Roni Lapata, Fotografer, Palu
  • Heru Sudjoko, Art Creative Director, Palu
  • Muriani Muhidin, PNS, Gorontalo
  • Syarief Munawar, Perupa, Gorontalo
  • Chia Korompot, Pegawai Bank, Palu
  • Diana Mustaqim, Profesional, Jakarta

Salam,

Neni Muhidin

Foto: NeMu
Model: my little stone jade

Sunday, September 2, 2007


Dibuka, sejak 17 Agustus 2007, nemu kedai kopi dan perpustakaan mini, di jalan Tanjung Tururuka nomor 27, Palu. Buka mulai jam 7 pagi sampai malam. Tempat nyaman buat kawan-kawan ngobrol, diskusi, atau yang ingin membaca...
ada waktu, mampir ya...

cp: Neni Muhidin
085241332877 / 0451-453177

Om Kota

Dia mengingatkan saya pada tokoh Adrian Cronauer (diperankan dengan sangat baik oleh aktor humanis Robin Williams), Americans, broadcaster, yang siaran radionya hadir dibarak-barak militer Amerika di perang Vietnam. “Good morning Vietnam…” sapaan khas pembuka siaran yang juga jadi judul film itu (1987) serupa cekat khas gaya dia, “eh, notoga”, lalu terkekeh.

Kalau Cronauer menyapa pagi, dia sore. Cronauer pemberi semangat bagi tentara AS di pagi hari untuk tetap menjaga militansi dan pemahaman lucu yang ironis tentang perang. Sedang dia pemberi kabar-kabar seputaran kota Palu. Berita kehilangan, kawinan, kematian, apa saja. Seperti ingin mendamaikan setiap senja dari segala kabar. Baik ataupun buruk. Apa saja. Untuk kemudian siap menyambut malam dengan tenang. Dengan biasa-biasa saja. Siapa saja yang mendengar. Keduanya –Cronauer dan dia, percaya apa saja bisa didekati dengan cara yang jenaka.

Waktu kusebut namanya Ayuba Lasira, mungkin tak semua orang dikota ini tahu. Dia lebih dikenal sebagai Om Kota. Dalam sebuah kesempatan bertemu dengannya (16/08) dia bercerita pada saya, dibanyak acara-acara, dia suka menyebut hadirin yang ada sebagai keponakan, hmmm…

Di even-even off air itu, dia adalah master of ceremony yang piawai menggiring suasana berubah cair, tidak protokoler.

Kecil, ringkih, selalu berkopiah, dengan senyum yang selalu terkembang. Om Kota mengawali karirnya pada 1969 di kantor Penerangan Donggala. Pindah ke Radio Republik Indonesia (RRI) pada 1972 sebagai staf operator studio, lalu menghabiskan karir jurnalistiknya yang sejak 1984 sebagai reporter sekaligus penyiar hingga 2006 dibagian pemberitaan RRI.

Reporter sekaligus broadcaster. Keseharian Om Kota adalah melakukan peliputan, sore hari hasil liputan dilaporkan dalam tajuk acara laporan kota, acara yang diasuhnya sejak 1987. Mulai pukul 4 sore dengan durasi sejam. “Laporan kota ini sudah ada sejak 1975. Saya mulai disini sejak 1987 dengan nama Om Kota itu.” Hotman Pontoh. Dia menyebut sebuah nama. Ini orang yang melekatkan nama Om Kota itu padanya. “Dia kepala pemberitaan RRI,” ucap Om Kota pada saya sambil tertawa mengenang.

Sudah 57 tahun dia sekarang. Setahun lalu (2006) dia pensiun. Tapi dia masih tetap mengudara seperti biasanya. Saya bilang pada dia, ini bukan soal administrasi kepegawaian, tapi ini soal eksistensi sebuah simbol. Seperti bisanya dia, langsung memotong omongan saya, “nuapa vai itu le…” hahaha… kita berdua tertawa bersama-sama diruang tamunya pagi itu. Salah 1 cucunya yang masih balita modar-mandir disitu. “So 3 cucuku le. Dari anakku. 2. Perempuan dua-duanya.”

Ya, dia sudah menjadi seperti ikon kota. Mungkin ada yang belum pernah secara fisik bertemu dengannya, tapi mungkin tidak dengan suaranya. Termasuk saya, yang masih kecil suka mendengar suara kalengnya di sirkuit moto-cross tanah runtuh, memandu acara. Tonk Enk, seorang crosser terkenal diganti namanya oleh Om Kota menjadi Tong Sampah. Topik ini begitu berbekasnya pada saya.

Rehat suaranya di laporan kota terjadi kalau dia keluar kota. Even tahunan yang rutin adalah laporan keberangkatan dan kedatangan haji di embarkasi Balikpapan. Ini kegiatan lainnya selain hunting berita, siaran dan ngemsi. Dia bergiat juga dalam proses sosialisasi haji asal Sulawesi Tengah.

Dikenal dimana-mana, untuk urusan plat nomor motornya saja bisa spesial. DN 3450 XX, plat motor bebeknya sebagai identifikasi tanggal, bulan, dan tahun lahirny7a. Hmmm… ini motornya yang ketiga setelah Suzuki A100 dan Yamaha Alfa. Sekarang dia pakai Yamaha FIZ. “Lebe kencang ini,” sambil memegang sadel. Tertawa lagi. Baru saja dicuci pagi itu. Motor itu diparkir diruang tamu didepan sofa tempat kami duduk.

Tentang ikon itu, dia menyamakannya dengan Kang Ibing untuk kota Bandung. Tapi buat sebagian orang lain yang dekat dengan kesehariannya beraktivitas, eksistensi ikon itu pelan-pelan digerus. Saya menangkap curhatnya. Mungkin karena sudah pensiun itu. Dia mengeluh soal akses mendapatkan berita dari narasumber yang ingin dia temui. Kebanyakan petinggi. Protokoler suka menghalang-halangi. Untuk itu dia suka kritik waktu siaran. Tapi dengan jenaka. “Gubernur saja saya kritik. Contohnya waktu acara hari ulang tahun Donggala. Beliau tidak datang.” Dia juga kritik situasi sekarang. Terlebih soal kebebasan pers yang menurutnya kelebihan pers.

Berita apa yang paling dia hindari untuk disampaikan? Informasi pemadaman bergilir dari PLN. Hmmm… dia pernah dimarah-marah via telepon karena informasi yang keliru. Padahal tentu saja bukan salah dia. Dia hanya membaca informasi dari humas PLN jalan-jalan dan daerah mana saja dikota ini yang akan dipadamkan.

Yang ingin melihatnya dilayar kaca, setiap Jumat sore hingga magrib, dia live di TVRI Sulteng dalam acara ATM, akronim dari Ayuba, Tasrif, Midu, acara talkshow yang menghadirkan pembicara yang berkait tema diskusi.

Dia, dan Cronauer adalah pemberi kabar. Keduanya true story. Beda zaman dan situasi. Sama spiritnya, jenaka.

Sore harinya, ibu saya yang sering mendengar siarannya menyetel radio. Suara sirene memanjang. Lalu tawa kecil mengikuti.

Foto: Ayuba Lasira (NeMu), Cronauer (http://vietnamresearch.com/media/afvn/adrian.jpg), cover Robin Williams (http://www.moviehabit.com/photos/good_morning_vietnam_150.jpg)

Wednesday, August 8, 2007

Odong-odong


The most trouble maker toys. Disini orang suka bilang hoya-hoya. Termasuk Jade, anak perempuan saya, yang tahu benar odong-odong sedang mendekat, sekalipun jaraknya dari rumah kami masih kurang lebih 50an meter. Speaker cempreng yang disetel lagu anak-anak dengan keras adalah khas odong-odong.

Odong-odongnya tidak dipanggil? Repot! tapi dipanggil juga pasti repot. Ini karena anak kecil seumur Jade (2 tahunan) yang masih balita itu egoisnya tinggi. Tak puas sekalipun sudah 3-4 judul lagu lewat. Sejudul Rp. 1000. hmmm… seringkali sad ending. Jade menangis. Juga temannya, anak-anak tetangga. Odong-odong harus jalan ke tempat lain mencari rejeki dari anak-anak yang lain.

Ada alokasi budget konsumsi sekitar 5000an per 2 atau 3 hari. Tapi juga sama seperti saya. Bahkan lebih tidak baik karena setiap hari. Rokok.

Odong-odong. Ini mainan impor anak-anak dari Klaten. Seperti kata Wahyudi, pengayuh odong-odong. Menurutnya ada semacam industri rumahan yang memproduksi odong-odong di Klaten, yang hasil produksi menyebar ke banyak daerah di Indonesia, termasuk Palu. (baca juga, http://www.liputan6.com/news/?c_id=3&id=143694)

Harga odong-odong bervariasi. Berkisar diantara 7-8 juta untuk 1 odong-odong. Odong-odong Wahyudi berlabel 6 juta. Dia beli langsung dari sana. Tapi itu belum termasuk ongkos kirim dari Klaten. Lagipula odong-odong Wahyudi statusnya kredit. Dan rasanya belum ada lembaga fundraising untuk odong-odong. Ini yang membuat Wahyudi sedikit resah.

Sehari keuntungan bersih Wahyudi dikisaran 200-300 ribu. Itu kalo narik dari pagi. Kalau keluarnya sore, keuntungan ada dibawah angka itu. Modalnya? Rokok. Sekalipun tak baik buat kesehatan seorang pengayuh odong-odong. Kata Wahyudi sampai sekarang ini keuntungannya masih lebih banyak dia sisihkan buat kredit.

Wahyudi tidak sendiri. Bersama kakaknya, pemuda dengan logat jawa timuran yang masih kuat itu –meski sudah sedikit bercampur dengan irama ucap orang Palu, merasa bisnis odong-odong punya prospek bagus dengan nada mantap. “Ada 2 di Parigi, 2 di Luwuk yang sudah kami kirim.”

Wahyudi kecil tinggal bersama keluarganya yang transmigran dari Banyuwangi. Lahir dan besar di Kotaraya, pantai timur Sulawesi Tengah. Bersama kakaknya, Wahyudi merintis bisnis mainan ini dari rumah petakan yang dia kontrak dibilangan jalan Tanjung Satu. Ada 10 odong-odong yang beroperasi di Palu ini, katanya. Tapi juga ada beberapa “pemain” lain yang juga berbisnis sama. Tapi tak sebanyak Wahyudi cum suis.

Saya suka sarkastik padanya. Tapi tak benar-benar berniat sarkas. Soal lama lagu. Tahu sendiri lagu anak-anak yang rata-rata paling lama cuma 3 menitan itu. Hahaha… “Tek kotek kotek kotek, anak ayam turun berkotek…” biasanya lagu itu. Dua kali refrain, dan selesai. Rasanya begitu cepat. Tapi saya pikir, lagi-lagi sama juga seperti rokok durasinya soal konsumtif.

Soal mainan saya jadi ingat terus rindu pada mainan saya sewaktu kecil. Katapel yang menggantung dileher, klahar si perusak aspal, dodorobe, sesekali main gulungan karet dengan anak perempuan, kadende, benteng, atau yang sedikit teknologis, atari, dan masih banyak lagi. Susah temukan pemandangan macam itu jaman sekarang. Termasuk makanan macam putu (dari beras pulut yang dimakan dengan duo) atau kue kelapa kering (kata orang kue menjilat matahari) yang dibungkus kubus dengan kertas minyak warna-warni. Yang cara makannya harus menengadah keatas. Yang masih terlihat eksis dan tak bisa digerus waktu mungkin layang-layang.

Playstation tentu saja jauh lebih menarik dari semuanya yang saya sebut diatas.

Dan Wahyudi mencoba membuat kemungkinan baru dari ketertarikan lain anak-anak pada beragamnya mainan anak-anak.

Suatu malam saya melihatnya melintas didepan rumah. Sudah larut. Sepertinya akan pulang. Lagunya tak seperti biasanya. Lagu orang dewasa dan disetel tidak terlalu keras. Lagu hits band Drive, Bersama Bintang. “tidurlah / selamat malam / lupakan sajalah aku / mimpilah / dalam tidurmu / bersama bintang” hmmm…

Mungkin untuk sedikit mengusir penat, meringankan capek betis kaki yang mengayuh seharian. Wahyudi kan juga...hmmm

Foto: NeMu (searah jarum jam: Jade, Wahyudi, Gita, Thirza)

Wednesday, June 27, 2007

Togean


Saya sedang tidak ingin ikut-ikutan hiperbola, seperti poster-poster yang saya temui dibeberapa tempat makan di Ampana, ibukota kabupaten Tojo Una-Una malam itu (15/0607). Hidden Paradise. Begitu judulnya. Beberapa lokasi diposter itu dibuatkan sejumlah inset-inset kecil lengkap dengan penjelasannya. Konon, seorang avonturir asing pernah bilang Karibia di Asia.

Ini perjalanan pertama saya kesana. Togean.

Esoknya, Sabtu cerah. Setelah 4 jam dari Ampana, kapal motor Lumba-Lumba Sejati merapat dipelabuhan Wakai. Kapal berkecepatan 40 km per jam itu mengayun tenang dilaut yang siang itu tidak begitu berombak. Jumat kapal-kapal tak melaut. Semacam mitos, mungkin. Hmmm…


Di Wakai. Sebuah speed boat putih parkir disisi lain pelabuhan. Kata kawan boat itu akan mengantar ke tempat tujuan. Ke Kadidiri. Dengan kekuatan 80 pk –dengan 2 mesin yang tiap mesinnya berkekuatan 40 pk, boat itu melaju kencang menabrak-nabrak ombak. Kurang lebih 70an km per jam. Takut, takjub, entah. Ipod saya gantung ke telinga. Sedikit mengatasi. Terlebih setelah intro Welcome to My Paradisenya Steven and Coconut Treez memenuhi kepala. Semua perasaan yang campur aduk itu terobati. Dari dekat boat yang setengah terbang itu, biota-biota laut terlihat telanjang. Bening. Semakin kedalam terlihat semakin kehijau-hijauan.


Boat sampai dalam 30 menit. Pelan-pelan boat mendekat ke sebuah cottage dan karam dipasir putih.


Hanya ada satu kata. Saya meminjam sepenggal sajak Wiji Thukul untuk menegaskan sebuah kata. Tapi bukan Lawan, seperti yang semestinya. Apa yang harus saya lawan ditempat yang indah itu. Yang ada pasrah. Pada keindahan.

Seorang kawan menyela, imajinasi yang tak sampai.

Empat bule berdiri dari duduknya diresto cottage. 3 pria, dan seorang perempuan pirang bercelana pendek ketat dan backless hitam. Hmmm… Seorang pria mendekat. Tak berbaju. Botak, badannya kekar bertato. “Welcome to Black Marlin Dive…” Instruktur diving berkebangsaan Jerman. Suaranya berat. “Hello”, saya membalas. Namanya Wolf. Dia mengajari tamu-tamu yang datang kesana dan ingin menyelam. Dia juga orang yang paling sewot jika melihat ada orang yang memancing diseputaran cottage. Tak terkecuali tamu atau pegawai cottage. Tak boleh memancing dekat situ. Ada benarnya. Ikan-ikan aneh yang tak pernah ditemui sebelumnya jadi tak enggan merapat kesana. Praktik penggunaan bom oleh nelayan tradisional masih suka terjadi. Itu kata pegawai kapal motor yang saya tumpangi ke Wakai. Bukan hanya ikan-ikan kecil yang dipastikan mati, saya membayangkan terumbu karang yang hancur. Tradisional kok kenal bom ya? Mungkin perlu juga sosialisasi bahwa dibawah laut sana ada kehidupan. Dengan cara yang mudah seperti Sponge Bob, Square Pants, dan kawan-kawannya yang lain.


Black Marlin Dive. Nama tempat itu. Nama seeekor ikan yang mulutnya runcing dan sirip-sirip yang seperti sayap. Kurang lebih ada 15 kamar disana. Dibuat eksotis. Nyaris semua bahan bangunan didominasi kayu berpelitur, kamar mandi yang unik berlantai batu dengan shower, kloset duduk dan wastafel. Ranjang yang empuk berkelambu. Didepan kamar ada gantungan buat bermalas-malasan. Cocok buat yang berpasangan. Apalagi yang bulan madu. Hmmm…


Ada mini hall buat nonton bareng, 1 set meja bilyar, gudang berisi tabung-tabung dan peralatan menyelam. 10 meter dari sana, sebuah dermaga kecil memanjang. Menghadap laut yang sejauh mata memandang tak ada apapun. Diam dan tenang. Seperti orang yang sedang menunggu dermaga kecil yang adem itu. Yang lebih menarik lagi, ada mini library yang menyatu dengan kantor cottage. Buku-buku berjajar rapi. Hanya ada dua bahasa dari buku-buku itu. Jerman dan Inggris. Paling banyak novel dan informasi soal ikan-ikan, terumbu karang. Seperangkat audio, globe, peta besar, dan sekelompok anjing jinak. Salah satu yang kuakrabi bernama Scuba.


Fadel Mohamad, Ginandjar Kartasasmita, sampai Tomy Winata pernah nginap disana. Ketika itu Megawati sedang kunjungan. Tapi hanya sampai Wakai. Pada 11 Oktober 2003. Canang-mencanang. Simbolisme khas birokrasi kita. Gerakan Mina Bahari plus himbau-himbau bersih pantai dan gerakan makan ikan. Hmmm… Yang terakhir, kata Said seorang pegawai Black Marlin, Prita Laura, mereka temani diving untuk liputan Metro TV.


Dari awal saya sudah membayangkan siap jadi stateless ketika menginjakkan kaki pertama kali ditempat itu. Juga siap melupakan satu hal: hari. Setelah makan malam, minuman beralkohol disiapkan. Sebotol whiskey Jack Daniels, 2 botol vodka Tanduay, beberapa kaleng coke dan es batu yang dipecahkan. Sting mengalun perlahan. I’m an Alien, I’m a legal Alien, I’m an Englishmen in New York, ooo…


Lalu mata sembab. Sesekali berasa kencing. Nudis. Saya turun kelaut. Diatas sana bintang-bintang bertaburan.


Saya tak sendiri. Ada beberapa kawan. Sekali lagi, Imam Sofyan, dosen yang funky itu. Partner yang asyik buat perjalanan. Tak terlalu berkesan akademis, kawan yang satu ini berusaha membumi, turun dari menara gading universitas dengan menarik benang-benang merah yang terjadi atas perjalanan sebagai bahan untuk menjelaskan politik sebagai konsentrasi keilmuannya. Lalu Kiki Borman. Kawan sejak taman kanak-kanak hingga sekarang. Ide perjalanan kali ini kuat datang dari dia. Dan Yaya Mustaqim. Seorang Web Designer. Yang diawal tulisan ini katanya imajinasinya tak sampai ke kawan saya yang lain, yang terakhir, Nudin, seorang pegiat lingkungan dengan konsentrasi bahari. Anggota komisi pemilu yang berkantor di Ampana. Banyak informasi juga cerita-cerita penting datang darinya. Terima kasih banyak atas semua interaksi yang terjadi dengan kalian. Hmmm…

Semua suka laut. Dan yang jauh lebih chemistry lagi, suka perjalanan. Juga musik. Malam kedua kami habiskan di dermaga dengan gitar kopong, lagu-lagu Ambon dan berbotol-botol Lucky Brand, semacam anggur putih rasa karamel yang kadar alkoholnya 14 persen. Siang hingga petang kami habiskan dengan snorkling. Dengan duapuluh ribu rupiah, kacamata air dan selang siap melingkar dikepalamu seharian. Untuk sekali diving 30 dollar US. Soal ada yang ingin tetap berkomunikasi selular, sebaiknya menggunakan operator Indosat. Hanya ada operator seluler itu disana. Itu pun tidak untuk semua spot di Black Marlin.


“Sejak konflik Poso, turis jarang. Kalo kasini dorang maso dari Gorontalo, lea,” kata Ipul pegawai cottage. Black Marlin buka reservasi di Gorontalo. “Tapi mudah-mudahan bulan depan rame, lea. Ada festival Togean tanggal 23 Juli.” Ipul menambahkan. Dengan kapal feri yang singgah di Wakai dari Gorontalo, para turis bisa mengakses Kadidiri dan tempat-tempat lain di Togean. Ada gugusan pulau-pulau besar disana. Ada Batudaka, Tolatakoh, Togean dan Una-Una. Beberapa spot diving menyebar digugusan pulau-pulau ini. Cottage-cottage banyak disebaran Togean. Dengan hak guna usaha, beberapa cottage disana dikelola oleh WNA.


Tapi Nudin gerah. Dan memang begitu karakter kawan yang satu itu. “Yang mo ditampilkan itu-itu lagi. Menari-menari. Tidak nyambung. Padahal ada yang jauh lebih menarik. Misalnya mengeksplorasi Bad Fish yang disukai turis-turis.” Nadanya sedikit tinggi. Bad Fish, ikan dengan wajah yang tidak menyerupai biasanya ikan. Belum lagi terumbu karang khas Togean. Kata Nudin penjelasan soal terumbu karang khas Togian yang ada diposter yang kemarin saya lihat itu salah.


Dua hari yang mengasyikan. Kami beranjak pulang. Semua punya kesan. Saya tertusuk bulu babi. Kawan yang lain kakinya sobek menginjak karang. Ada yang terbakar kulit wajahnya. Harusnya memang pakai krim sunblock. Tapi itu tanda, kata Yaya, jadi lebih bisa dipercaya saat bercerita pulang nanti. Diatas boat yang bergoyang kami tertawa bersama. Asal tak menginjak Stonefish, kata Ais, pengelola Black Marlin. Sejenis ikan yang hidup berkamuflase dengan karang. Siripnya berbisa. Racun bekerja cepat membunuh orang yang tertusuk siripnya. Bulu Babi yang kuinjak disarankan hanya dengan mengencingi tempat yang tertusuk. Jenis karang purin juga sakit kalau terinjak. Itu karena kami snorkeling tak memakai sepatu katak yang terbuat dari bahan karet yang tebal.

Sepenggal kalimat dari sajak yang saya pinjam untuk kemudian menegaskan sebuah kata pengganti kata lawan diakhir sajak itu tetap tidak juga datang. Hmmm…

Catatan:
Dari kota Palu ke pulau Togean (dalam hitungan per orang dan dengan mata uang Rupiah) dapat menggunakan minibus dengan tarif 40 ribu. Dengan mobil travel 100 ribu, selama 7-8 jam sampai ke Ampana, melewati Kabupaten Parigi Moutong dan Poso. Dari Ampana menggunakan kapal motor selama 4 jam ke Wakai. Tarif 40 ribu. Dari Wakai 30 menit ke Kadidiri, Togean, dengan speed boat milik cottage tempat tujuan. Di Black Marlin Dive di Kadidiri, Togean, rate untuk 1 malam untuk kamar standar 120 ribu. Untuk yang deluxe 150 ribu, sudah termasuk makan 3 kali sehari.

Reservasi Black Marlin Dive:

blackmarlindive@gmail.com

Alamat: Jalan Panjaitan nomor 90a, Gorontalo, 95116

Telp/Fax: 0435-831869

Website: www.blackmarlindive.com

Foto-foto: NeMu (Black Marlin Dive, kadidiri, Togean)

Tompu


Saya curiga Katon Bagaskara pernah kesitu. Ke sebuah kampung –desa menurut administrasi pemerintahan modern, ngata dalam bahasa orang-orang disitu –Kaili Ledo. Tempat itu bernama Tompu.

Katon?

Ini tentang lagu negeri diatas awan, disuatu senja yang basah (31/05/07). Kawanan awan yang berarak, tipis, dibawah sana lembah Palu terbentang. Garis teluk yang tegas serupa elips yang memanjang. Kami (saya bersama seorang dosen politik, Imam Sofyan, dan seorang mahasiswa pecinta alam, Nunung, keduanya dari Fisip Universitas Tadulako) berada diatas awan yang pelan-pelan bergerak itu. Juga sekawanan burung pipit yang berkejaran diatasnya.

Ngata Tompu berada didekat Ngata Baru, lokasi penghijauan, sebelah timur dari arah kota Palu. Masuk dalam wilayah kecamatan Biromaru, Tompu berjarak kurang lebih 25 km dari Palu. Tapi jarak yang relatif pendek itu menyita waktu tempuh kurang lebih 2 jam dengan sepeda motor. Karena masih jalan setapak tak beraspal dan selalu becek, Tompu hanya dapat diakses dengan sepeda motor atau berjalan kaki. Tak ada listrik disana. Simbol modernisasi putus sejak belokan pertama dari Ngata Baru, tepat didesa Kapopo.

Tapi tak putus-putus benar simbol itu. Atribut politik hadir disana. Dari baju-baju parpol atau poster pilkada gubernur, walikota, pemilu DPRD, DPD sampai presiden ada.

Tompu terbagi atas beberapa Boya (dusun), yang buat saya rasanya lebih dekat ke dukuh dalam terminologi Jawa, satuan terkecil dari sekumpulan orang yang hidup bersama. Saya naik hingga Boya terakhir di Kalinjo.

Berada diketinggian 800an meter dari permukaan laut, suhu Tompu berkisar diantara 15-20 derajat celcius.

Dengan 2 motor bebek, kami seperti sedang balapan grass-track. Ini yang membuat waktu tempuh menjadi lama. Butuh sedikit keahlian berkendara. Dibeberapa titik jalan, jurang ditutupi semak-semak liar.

Sesampai di Kalinjo, kami bertemu dengan beberapa warga yang baru pulang dari berkebun. Meski tak berlahan besar mereka berkebun coklat, ada yang merotan. Juga menanam rica atau kemiri untuk dijual ke pasar di Biromaru. Terakhir kami mampir dirumah Pakadus. Mungkin akronim dari Bapak Kepala Dusun. Waktu kenalan dia tak menyebut nama. Kata Nunung dia juga sering memanggil laki-laki setengah baya itu begitu. Pakadus.

Dari rumah panggungnya yang kokoh, dengan bahan kayu dan beratap rumbia –semua rumah disana berarsitektur sama, kami duduk diserambi yang hangat. Lampu teplok dinyalakan. Perbincangan kami seringkali ditingkahi lagu-lagu tradisional tanpa alat musik yang didendangkan oleh anak-anak perempuan remaja meninabobokan adiknya. Juga semacam serangga entah yang hinggap dipohon kelapa dengan repetisi suara yang keras dan intens. Waktu menunjukkan Pukul 19.30.

Bahasa Indonesianya patah-patah. Obrolan kami kearah seputar cara hidup. Tentang air. Tentang bagaimana warga Tompu memperlakukan air disepanjang aliran sungai Ngia yang melewati kampung mereka dari mata air dihulu hingga kerumah-rumah warga dihilir, di Ngata Baru, seperti cerita Nunung sebelumnya pada saya. Ini yang membuat saya penasaran.

Kearifan lokal. Tanpa disadari kadang bisa lebih rasional dan etik dari modernitas. Konvensional, kebanyakan dilakoni secara tidak literal. Pada alam, misalnya. Mereka telah melaksanakan kata itu. Beberapa laku adat disana dipaparkan dengan baik oleh Pakadus. Misalnya tentang filosofi orang atas yang harus menjaga air untuk orang bawah. Biner atas-bawah secara harfiah mungkin memang beroposisi. Tapi dalam konteks air sungai Ngia itu tentu saja tidak.

Air sungai Ngia itu mengalir hingga ke Ngata Baru. Ada bak air besar di Kapopo yang menampung air itu untuk kemudian sebuah pipa berdiameter lebar melintasi desa dan membawa air-air bersih itu ke pipa-pipa kecil dirumah warga.

Ada kesepakatan adat disana tentang pelestarian lingkungan sepanjang aliran air sungai Ngia sejak Vana (wilayah inti yang menjadi titik-titik mata air). Disepanjang itu tak boleh ada kegiatan apapun baik untuk bertani ladang atau untuk kebutuhan warga Tompu itu sendiri. Kebutuhan air bersih untuk konsumsi warga Tompu berasal dari banyaknya mata-mata air yang mengalir dari punggung-punggung bukit, yang dialirkan melalui batang-batang bambu ke rumah-rumah.

Yang melanggar itu akan kena Novaya. Sanksi adat berupa 1ekor kambing. Itu untuk sanksi yang ringan seperti menebang pohon-pohon muda macam pisang. Yang berat bisa 1 ekor kerbau atau yang nilainya sama dengan itu, 5 ekor kambing.

Pernah suatu waktu mereka bersitegang dengan beberapa warga yang mengaku tinggal di Ngata Baru. Soal rencana perkebunan coklat didekat aliran sungai Ngia. Kata Pakadus setelah nyaris konflik fisik itu terjadi, sampai sekarang rencana itu tak kunjung terlaksana.

Tak lama kami disana. Karena malam sebentar lagi tua. Pakadus meminta kami menginap disana. Tak ada rencana menginap, kami memaksa untuk tetap pulang. Sebelum kami pulang, bersama isterinya Pakadus menyiapkan kami makan. Begitu lezatnya. Nasi jagung dan irisan pisang setengah matang yang dikuah santan. Kami jadi tak enak hati karena merepotkan. Mereka malah tersinggung kalau tak dimakan. Selain memang lapar, saya takut ada bagian dari kebiasaan ini yang berhubungan dengan sanksi adat. Serupa pamali dalam mitos awam.

Sebelum kami pulang Pakadus menyebut sebuah lembaga. Bantaya. Saya bisa dapat banyak informasi tentang mereka disana, katanya. Dia juga memberi saya Pare’e, alat musik tradisional Kaili yang terbuat dari bambu yang bentuknya seperti garpu tala.

Selang berapa hari setelah berkunjung kesana saya ke Perkumpulan Bantaya. Lembaga yang konsern ke masyarakat adat. Beberapa referensi tentang Tompu ingin saya dapat dan gali dari sana. Perpustakaan yang baik. Buku-buku terdata. Setelah berkenalan dan berbincang sekadar dengan beberapa kawan baru, saya diberi dua bacaan yang berhubungan dengan Tompu. Satu serupa newsletter. Tesa Ri Bantaya namanya. Edisi 7, November 2003 berjudul Pembaruan Desa, Menata Masa Depan Bersama. Yang satunya buku jurnal kompilatif yang diterbitkan lembaga itu bersama Yayasan Kemala di Jakarta. Judulnya Catatan dari desa tentang desa. Kedua hardcopy bacaan itu boleh saya bawa untuk difotokopi, dan segera dipulangkan. Hmmm…

Saya membaca sejarah panjang Tompu dari dua bacaan itu. Tentang asal-muasal Tompu yang berasal dari kata potompu nubengga yang artinya tempat berkubangnya kerbau. Yang menarik saya mengingat penjelasan Pakadus tentang asal-muasal manusia yang menurutnya dari sana. Serupa tesis baru yang berdiri sejajar dengan teori Darwin atau agama-agama monoteis. Salah satu bacaan menguatkan tesis itu. Tompu diciptakan oleh Tupu A’ta (Maha Kuasa) yang menjelma menjadi Nebete, leluhur orang Tompu.

Eksistensi Tompu juga tak kalah panjangnya. Digerus sejak Belanda menguasai Sigi Biromaru pada 1927, Tompu dijajah oleh karena kepentingan damar, kulit kayu manis dan kemiri. Menjadi otonom setelah Indonesia merdeka, Tompu memiliki struktur pemerintahan yang pemimpinnya (totua ngata) dipilih langsung. Orde baru menjadi penjajahan jilid berikutnya bagi Tompu. Struktur pemerintahan bubar pada 1975 ketika resettlement paksa diberlakukan. Sebagian yang lain eksodus.

Mengembalikan Tompu sebagai ngata yang otonom adalah cita-cita warga Tompu. Alasan historislah yang menguatkan cita-cita itu.

Saya balik lagi kesana. Tapi tidak ke Tompu. Hanya sampai di Ngata Baru, di Kapopo. Seorang perempuan menunjuk tempat. Dia isteri ketua RT setempat. Air jernih jatuh dari pipa yang sengaja dibuat berlubang. Sekelompok anak kecil memegang dodorobe (senjata mainan dari bambu muda yang masih hijau) bermain dibawah pancurannya. Menurut perempuan setengah baya itu, air itu untuk minum, mandi, mencuci.

foto: NeMu (Lembah Palu dari Ngata Tompu)