Friday, January 20, 2012

Saya, Musik, Palu: Sebuah Testimoni



1993
Saya masih SMP kelas tiga. Baru 14 tahun. Celana pendek warna biru. Tapi kemana-mana dengan seragam itu, rokok sudah di tangan, Filtra 100s. Entah di hari, tanggal, dan bulan apa di tahun itu, saya memutuskan akan jadi vokalis sebuah band.

Di gitar ada Leo dan Angki, di drum ada Kiki, di Bass ada Fandi. Band ini dipengaruhi formasi dan lagu-lagu Guns N’ Roses. Di sebuah waktu ketika kami bolos sekolah ramai-ramai, kamar saya berubah jadi panggung lip sync lagu band itu, Paradise City. Momen yang memantik terbentuknya band yang kami namai OFF (kepanjangan dari One for Feel). Personilnya satu sekolah dari SMP Negeri 2.

Saat itu, formasi OFF dibentuk untuk sebuah rencana mengikuti festival rock. Tidak terlalu jauh dari saat itu, sebuah band yang para personilnya saya kenal, menjadi juara favorit, juga di sebuah festival rock. Nocturno. Band yang menginspirasi OFF lahir. Personilnya satu sekolah di SMA Negeri 2. OFF ingin juga punya kebanggan sama seperti band itu, Nocturno.

Saat itu ada banyak lagu yang ditentukan panitia dan harus dipilih dua sebagai lagu wajib dan pilihan. Jika terpilih ke final, kami bebas untuk membawakan satu lagu tambahan yang dipilih sendiri. Kami memilih lagu band Indonesia, Jet Liar (Bukan Sandiwara) dan lagu barat punya White Lion (Farewell to You). Yang Jet Liar tingkat kesulitan lagunya ada di bagian yang nyanyi, sedang tak ada kesulitan berarti secara teknis di lagu White Lion yang tanpa gitar melodi.

Hanya ada dua referensi studio latihan OFF saat itu. Studio milik keluarga Panintjo di Boyaoge, dan studio Uzi, yang saat itu lebih komplit, milik Pungki Lenak di jalan Yojokodi.

Beda dengan dua gitaris OFF yang sudah agak lebih baik mengenal kord, tidak demikian halnya dengan bass. Ada mentor khusus untuk basiss OFF mempelajari dua lagu kolom demi kolom fret, khusus untuk dua lagu itu saja. Dua lagu yang dimainkan dalam hanya dua senar gitar bass paling atas. Sempat berdebat, bagaimana jika OFF masuk final. Itu berarti harus ada satu lagu yang harus disiapkan. Karena tak punya motivasi berprestasi, bisa ikut meramaikan saja sudah cukup buat OFF.

Begitu pula pada drum. Fill in drum di hitung ketat persis seperti pada dua lagu yang kami pilih itu, untuk memastikan agar tempo lagu ada di jalurnya. Belum ada internet saat itu. Saya menonton sekaligus menyontek dari video bagaimana Axl Rose meliuk-liuk bagai ular, sesekali menaruh sebelah kakinya menginjak pengeras suara yang berfungsi jadi monitor, yang biasanya di taruh di bagian depan panggung. Gagah sekali rasanya jika bisa mempraktekkan gaya itu. OFF tak masuk final, tapi sejak saat itu, saya mulai merasa salah satu pilihan saya kedepan adalah bermain musik, mengubur impian saya yang lain yang ingin jadi pembalap motocross.

Dua hal dari sana yang ingin saya sampaikan adalah soal motivasi dan aktualisasi. Antara kebangaan dikenal banyak orang dan dengan begitu menjadi lebih mudah di terima di lingkungan pertemanan, dan juga pelepasan ekspresi kedirian, yang saat itu lebih terasa hadir di alam bawah sadar saya yang baru memasuki masa remaja.

Setelah event itu, sebagai band, OFF benar-benar off (mati).

Momen itu mengantar saya pada sebuah tantangan lain. Talenta saya dilirik sebuah band rock dari sebuah kampung kecil di kota tua Donggala, Labuan Bajo. Nama band itu Valentuma Rock Band. Sebuah festival rock akbar akan digelar Uzi bertitel Festival Rock Se Sulawesi. Mandor, gitaris band itu dan Muhlis drummernya, menemui saya. Menghadapi rencana itu, saya sempat pindah tempat bermain jauh ke Donggala.

Saya lupa judul lagu yang liriknya diciptakan Muhlis dan musiknya diaransemen oleh Chris Kamudi itu. Selain itu, kami membawa lagu band Kidnap berjudul Katrina. Saya gugup minta ampun lihat band rock dari Makassar, S-70 (konon singkatan dari nama jalan dan nomor rumah di Makassar, jalan WR Supratman nomor 70 sebagai markas band) yang kala itu, sedang check sound dan memainkan lagu Helloween, Future World.

Era festival band di Palu, yang berkecenderungan sebagai festival musik rock, menurut beberapa sumber, baru mulai ada sejak dekade 80an. Di dasawarsa itu besar kemungkinan kecenderungan itu dipicu oleh fenomena tren musik dunia, ketika rock bergeliat. Sekalipun cikal-bakalnya sudah ada sejak era 60-70an ketika generasi hippies dan bunga berkembang tidak saja sebagai sebuah era penanda dalam musik tapi juga sebagai gerakan kultural.

Adalah Ong Oen Log atau lebih dikenal Log Zhelebour, promotor asal Surabaya yang terkenal dengan seri tahunan festival rocknya itu. Kecenderungan yang juga mempengaruhi kiblat musik rock yang Surabaya sentris. Sebut saja Power Metal, Andromeda, atau dimasa pertengahan ada Boomerang. Masih ada banyak band dan solois rock di kota-kota selain Surabaya yang diorbitkan Log sampai hari ini. Contoh lain Jamrud yang asal Bandung.

Era festival itu memuncak di awal era 90an. Lagu-lagu rock dari Surabaya cenderung jadi anutan.

1994
Saya sudah SMA. Tak lagi menyanyi, kali itu saya banting setir jadi drummer. Sebuah komunitas yang lebih dikenal sebagai komunitas otomotif mencoba meluaskan eksistensi mereka ke ranah seni musik. Padahal nama komunitas itu adalah nama band rock n’ roll legendaris asal Amrik, Grand Funk (GF). Pun sama, saaat itu saya di tarik untuk kebutuhan menutupi ketiadaan personil yang bermain drum untuk sebuah festival rock.

Bolos sekolah saya semakin menjadi-jadi. Ditambah miras dan mulai mengenal narkoba. Saat tampil, saya yang bermain drum saat itu menghentikan lagu kedua yang masih di tengah jalan. Dua lagu yang sudah kami persiapkan itu, lagu terakhir tak sampai selesai. Pil koplo merusak konsentrasi saya untuk melanjutkan permainan.

Kiki, mantan drummer saya di OFF yang bersekolah (SMA) di Bandung setiap kali pulang liburan ke Palu mengenalkan saya pada Green Day. Yang sudah lama macam The Cure menjadi baru buat saya saat itu. Radio-radio hanya memutar lagu-lagu permintaan yang diakses dari media mainstream (televisi dan media cetak) dan kebanyakan top fourty, istilah lain bagi tren kompetisi, lagu hits mingguan yang disusun berdasarkan pertimbangan-pertimbangan radio yang menyelenggarakan.
 
Dan drum menjadi harapan baru saya bermusik. Saat itu saya merasa tetap bisa menyanyi dibalik set drum. Rasanya lebih menantang, lebih gagah. Ketika teman sebaya meneruskan sekolahnya ke kelas 2 SMA, saya putus sekolah dan melanjutkan kursus drum selama enam bulan di Studio 5, di jalan Supratman, Bandung. Tempat kursus yang dilabeli music school of rock itu milik musisi-musisi tua kota kembang macam Deddy Stanzah (alm), bassis band rock terkenal asal Bandung, The Rollies.

Era Festival
Gamal, pentolan Madness, sebuah komunitas di Palu di era itu menyebut, menyelenggarakan untuk kali pertama festival rock pada 1986 dengan bendera Madness sebagai organizernya. Saat itu Gamal menjadi ketua panitia. Event itu diselenggarakan di Gedung Olahraga dibilangan jalan Prof. Mohamad Yamin yang lebih dikenal orang sebagai jalur dua. Aset milik pemerintah propinsi yang menjadi salah satu saksi bisu perkembangan musik itu, tak saya dapatkan data pembangunannya.

Di kesempatan yang lain, Ges Hasan, seorang promotor musik yang terakhir pada 2009 lalu mengadakan pagelaran musik jazz yang menghadirkan bintang tamu Zarro, menyebut pernah menginisiasi sebuah event musik pertama di Palu yang diselenggarakan di lapangan terbuka di halaman gedung kampus Stisipol Panca Bhakti. Event itu diberi titel Musik Parkir. Itu tahun 1989. Mungkin serupa warna baru yang inovatif di masa itu ketika pagelaran-pagelaran musik lebih sering diselenggarakan diruangan tertutup.

Festival rock Madness 1986 mengantarkan nama-nama yang baru saya tahu sekarang. Interview, Tholaress, menurut Jojon (47), adalah beberapa diantaranya yang dia ingat. Jojon adalah bassis rock lintas generasi yang sampai hari ini konsisten bermain dan berkarya di jalur seni musik. Kala itu, Jojon berkisah, band mereka, TR (singkatan dari Teroris) meraih juara dua. Nama Ote Abadi, Neni Larekeng, Theo Kamudi, dan Umar Cibo, selanjutnya Hengky Supit dan Abdee Negara sudah dikenal Jojon sebagai pentolan-pentolan Interview saat itu.

Jojon serupa jembatan bagi saya yang menghubungkan serpih kenangan ketika tren-tren dalam musik berganti. Contoh itu serupa tren celana jins seorang rocker yang baggy di era 80 dan 90an awal, lalu masuk ketika glam rock yang ketat (skinny) dan fashionable –tidak saja celana tapi juga rambut panjang terurai rapi. Dan akhirnya sampai pada hari ini ketika dua tren itu campur aduk bersama banyaknya pilihan genre musik yang tidak lagi saling mendominasi.

Resmi bermain band pada 1982, Jojon menjadi saksi bagi generasi ketika era lama dan baru bertemu dan berinteraksi. Beberapa nama ia sebut di awal pilihannya menjadi musisi itu. Ia menyebut Ilham Lawido (alm), Dahlan Intje Makka, dan yang sangat berkesan baginya, Man Himran (alm). Jojon pernah merasakan tampil membawa nama Risela di sebuah acara resmi pemerintah daerah diawal pengalamannya bermusik. Mereka membawakan lagu-lagu pop Kaili gubahan HM Bahasyuan.

Saat saya temui (18/01), terlihat Jojon haru ketika berkisah mengenang masa lalunya bersama drummernya, Hakim yang hari itu dimakamkan.

Tentu saya ingat Harimau Power, juga pernah nonton langsung band bentukan RRI, Audiorama yang biasanya tampil malam minggu di halaman kantor itu, juga Palbar (singkatan dari Palu Barat)yang dibentuk Camat Palu Barat saat itu, Rully Lamadjido, dan Hammer Rock Band. Saya masih SD dan melihat penampilan-penampilan Jojon cum suis di semua bandnya itu –sering tampil di panggung lapangan Walikota atau di tempat lain yang meninggalkan banyak kesan.

---

Sekarang, selain festival yang sudah tak lagi menentukan lagu orang yang wajib dibawakan, sejak dulu, event-event musik dengan bintang tamu dari luar juga tak kalah ramainya. Saya pernah menonton Nike Ardila (alm) dan Inka Christie di Gedung Olahraga. Juga pernah menonton Anggun C. Sasmi. Hari ini para selebitis musik yang rasanya jauh itu datang silih berganti main di Palu. Mungkin sejak dulu, selain berorientasi bisnis, event model itu menjadi semacam stimulan lain bagi musisi Palu untuk menggantungkan eskpektasinya: meninggalkan kampung halaman dan bergelut dengan nasib, dengan karya dan dengan kesempatan masuk dapur rekaman.

Beberapa nama tercatat di blantika musik Indonesia. Abdee Negara (Slank), Rival Himran (Pallo), Sigit aka Pasha (Ungu), Nizar (Zarro),  Reza (Peterpan), Adi Lawido (Tony Q Rastafara), Indha (Cozy Republic), Harry Mantong (Indonesian Idol) untuk menyebut beberapa nama itu.  Tentu saja masih ada nama-nama lain yang terlewatkan oleh saya. Jauh sebelum itu, Hengky Supit (Whizzkid) seperti tak asing di telinga orang Indonesia.

1996
Saya meninggalkan Palu dan memilih Bandung dengan dua cita-cita sekaligus: bisa melanjutkan studi ke perguruan tinggi dan jadi musisi.  Atmosfir kota yang dingin itu memicu sesuatu, kreasi. Saat itu, tren musik sedang bergerak kearah alternatif. Saya tertarik di satu sisi dari gejala itu, Seattle sound, dan mulai mengakrabkan telinga dengan band-band asal Seattle itu: Nirvana, Pearl Jam, Soundgarden, Nine Inch Nails.

Gejala yang kemudian terbaca oleh saya dimaknai oleh komunitas-komunitas subkultur di Bandung sebagai Do it Yourself. Tidak hanya musik, sastra, rupa, hobi, literasi, bergerak kearah sana. Mereka sering menuliskannya DIY. Ini menjadi semacam gerakan kultural baru yang di ranah musik, band-band mulai melepaskan diri dari pengaruh band idola, berkreasi menciptakan karya sendiri dan menyusun strategi pemasaran. PAS band mungkin jadi sampel abadi untuk menjelaskan fenomena itu, tidak saja di Bandung, tapi juga Indonesia.

Saya mengamati gejala itu dari dekat. Gejala yang berjalan seiring dengan periode ketika politik Indonesia jenuh di tahun 1998 dan reformasi menjadi anak kejenuhannya. Sempat setelah selesai kuliah pada 2001, orientasi bermusik saya ditantang oleh kawan yang saya idolakan sikap dan selera bermusiknya, Adi Tangkilisan. Adi, gitaris yang di Palu terkenal dengan band Pleaseat, sebelumnya sudah mencoba mendokumentasikan karya mereka. Bersama Rival (bass), hijrah ke Jogjakarta untuk menyusun segala sesuatunya tentang band itu dari sana. Kevakuman dua personil Pleaseat itu saya isi (drum), sembari menunggu kepastian Abdi (vokal) yang masih di Palu.

Hampir setahun kolaborasi itu berproses tanpa orientasi, tiba juga di titik nadir. Saya memilih balik ke Bandung, Rival pindah ke Jakarta, dan hari ini setelah sekian tahun berkolaborasi dengan banyak solois dan band, Rival memutuskan untuk membangun sebuah duo Reggae solid yang dia beri nama Pallo. Sebuah album sudah dihasilkan. Doa saya panjang buat Rival untuk terus eksis berkarya.    

Timur dan Barat
Periode ketika festival musik booming di awal 90an –mungkin hampir setiap minggu festival dihelat di Palu, muncul kecenderungan soal dikotomi antara timur dan barat. Jojon menegasi anggapan saya soal dikotomi itu. Baginya anggapan itu salah, sekalipun tak benar-benar salah. Dikotomi itu menurut Jojon terjadi karena fans, para pendukung tempat band itu didirikan. Bukan oleh band itu sendiri. Groupies, mungkin istilah kekinian yang tepat bagi para pendukung sebuah grup band.

Di masa itu, yang saya ingat hanya beberapa. Wild Cats, Makachecho, Grandness, Azymuth, yang barat, dan Kantata, Ex Collection, Pluto yang timur. Tapi seringkali sulit mengidentifikasi band, karena sebagian besar band lahir menjadi tak sekadar kumpulan orang yang memainkan alat musik, tapi juga semangat berkumpul. Sebagai contoh tentang ini saya ingin mengajukan Kantata Pleaseat, yang awalnya diidentikkan sebagai mimikri Iwan Fals.  

Penanda polarisasi timur-barat kemudian oleh Jojon mungkin dapat terlacak ketika pada akhir 80an, sebuah event kontes lagu-lagu The Beatles digelar. Aura soliditas masing-masing pendukung band terasa ketika yel-yel diteriakkan, sekalipun sebenarnya tidak jarang ada anak timur yang main di band dari barat, dan begitu pula sebaliknya. Jembatan, seringkali berkecenderungan memisahkan.

Tentang kecenderungan kiblat bermusik pun sama. Era mengidentikkan Madness dengan Genesis, The Police, dan band-band beraliran new wave, punk, dan progresif rock masa itu. Ermas Cintawan, basiss Madness saat itu mengamini identifikasi macam itu. Selain itu, kecenderungan lain yang bisa di baca pada pelaku lainnya misalnya pada Revi Passau cs yang memainkan The Beatles atau The Rolling Stones.

Menurut Jojon, God Bless menjadi salah satu kiblat mereka di barat (Boyaoge, Kamonji, Kampung Baru), karena di masa itu yang soulnya sama seperti God Bless macam Deep Purple, Led Zeppelin, juga mereka mainkan, tapi soalnya ada pada susahnya mencari vokalis yang aksentuasi Inggrisnya baik.

Kecenderungan lain ada pada soal nama band. Di barat ada banyak nama band yang pemain-pemainnya berpindah dari satu band ke band yang lain, yang bisa jadi dibentuk dengan nama baru, atau saling berganti. Beda dengan misalnya di timur yang secara kasuistik, bisa dilihat pada band Ex Collection yang bermarkas di bilangan jalan Sultan Hasanuddin, Jojon menambahkan.

Sisi positif lain dari musik, khusus di wilayah Boyaoge adalah anak-anak muda disana seperti mendapatkan wadah untuk mengaktualisasikan diri. Sejak lama, ada dua band, Gembira Ria dan Soneta yang punya alat band yang biasanya mereka akses untuk latihan atau mereka lihat penampilan dua band itu saat ada acara syukuran atau kawinan. Musik yang dimainkan all round, dari dangdut sampai rock.

Saya baru tahu ketika akan memulai tulisan ini, Jojon adalah basiss terbaik saat festival rock se Sulawesi yang diadakan Uzi itu.

Era Awal
Di ranah musik, modernitas Indonesia bisa diraba ketika pelaut-pelaut Potugis masuk membawa Fado, musik Portugis yang kemudian dikenal dalam bentuk awalnya sebagai Moresco dan akhirnya sebagai Keroncong. Modernisme yang mungkin tak lebih dulu meraba Palu, tapi Parigi, ketika Hasan Muhamad Bahasyuan (1930 – 1987) mulai mengeksistensikan dirinya sebagai seniman besar yang mulai memperkenalkan musik Hawaiian band dan kemudian membentuk sebuah orkes keroncong yang diberi nama Irama Seni pada 1947. Saat itu beliau menjadi pemain biolanya.

HM Bahasyuan seolah jadi pintu masuk untuk menjelaskan perkembangan awal modernisme musik di Palu, ketika pada 1965 dari Parigi, Bahasyuan muda pindah ke Palu dan membentuk band yang diberi nama Nada Anda, cikal bakal Risela, band populer masa itu singkatan dari Riri Sekeluarga. Riri adalah perempuan, anak tertua Aziz Lamadjido (alm), tokoh yang kemudian pernah menjabat sebagai Bupati Donggala dan Gubernur Sulawesi Tengah. 

HM Bahasyuan telah meletakkan pondasi dalam perkembangan musik modern dan spirit lokal di Palu. Sebagai contoh, lagu Posisani gubahan HM Bahasyuan yang menurut Jojon punya akar (roots) rock n’ roll. Atau pada lagu Kaili Kana Ku Tora yang pop a la Rinto Harahap yang saat itu tren.

HM Bahasyuan memang telah pergi mendahului, tapi keroncong belum mati. Saya menemukan nafas musik itu hidup di keluarga Yusuf Dadang yang sampai hari ini masih tetap memainkan irama keroncong bersama keluarga dan kerabatnya di ruang tamu rumahnya di jalan Sungai Balantak, Kalikoa. Cuk, Kontra Bass, Biola, Seruling, masih bunyi dari rumah itu. Sebagai seniman musik,  Yusuf (74 tahun) berpesan bahwa musik baginya adalah hidup, dan untuk itu sampai hari ini pula Yusuf masih bermusik.

Akhirnya…
Saya masih bermusik. Mungkin dengan orientasi yang tidak lagi menjadikan musik sebagai pilihan dan sandaran hidup. Maret 2008 saya bersama Kiki, drummer band OFF itu, menginisiasi terbentuknya sebuah komunitas musik yang kami beri nama Palu Jam of Claro (classic rock). Momen yang kami rangkaikan dengan undangan kami pada sebuah band rock n’ roll dari Bandung The SIGIT.

Setelah pulang kampung pada 2007, saya tak punya peta. Kalaupun ada, peta yang saya gunakan adalah peta buta yang tak punya penanda. Tapi saya tahu, media, khususnya radio-radio di Palu juga memberi ruang khusus buat musisi Palu yang ingin memperdengarkan karya-karya mereka pada pendengar. Organizer-organizer tumbuh dan tak jarang bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan rokok atau produk jasa lainnya menggelar event-event yang melibatkan band-band dengan karya sendiri yang seringkali dilabeli dengan lema indie (dari kata independent).   

Di sebuah waktu yang bersamaan, event-event itu menyebar dan pilihan atasnya beragam, termasuk pada pilihan genre musik yang ingin didengarkan.
  

Terakhir, pada Desember 2011, impian saya yang lain, mengundang band pop Efek Rumah Kaca main di Palu terwujud. Dua band yang saya suka. Suka yang tidak biasa. Suka musikalitasnya, suka langgamnya, suka sikapnya bermusik: memadukan kebutuhan hiburan dan refleksi yang menginspirasi.  

Epilog
Saya senantiasa membangun kepercayaan bahwa karya seni yang baik akan menjadi serupa bunga yang didatangi kumbang. Cepat atau lambat ada pada soal waktu, bukan? dan bukan ruang! Teknologi, menciptakan ruang terbuka yang akan menjawab kebutuhan teknis pendokumentasian karya seni juga sekaligus sebagai alat mempublikasikan karya seni itu sendiri. Tapi tentu saja dengan tetap menggunakan strategi untuk menemukenali orientasi berkarya. Dan akhirnya, sebagai sebuah gerakan kultural, lokalitas dalam karya seni harusnya dimaknai sebagai spirit yang memberikan kekhasan.

Friday, September 2, 2011

Juru Foto Keliling Alun-alun Bandung

KAMIS, 1 September 2011. Hari kedua lebaran versi pemerintah. Sore yang hangat. Alun-alun kota Bandung dipadati warga yang menghabiskan waktu liburan. Mungkin itu ruang publik terbuka paling ramai pasca lebaran. Orang-orang berkumpul disana, dan sepertinya dari daerah-daerah tetangga macam Cimahi, Garut, Soreang, Padalarang. Bus-bus pariwisata dan angkutan kota berlabel trayek dari daerah-daerah itu parkir di sepanjang Alun-alun.


Kereta mainan anak-anak, mainan gelembung busa, Odong-odong, penjual makanan, dan minuman panas cepat saji panggul bersatu dalam taman di depan masjid raya di tengah kota itu. ada yang menarik di suasana itu, Juru foto keliling.

Ada banyak dari juru foto keliling itu disana yang menjajakan jasa mengabadikan momen bagi orang-orang yang datang kesitu yang mungkin tak setiap hari kesitu. Salah satunya yang saya abadikan dalam beberapa foto berikut.

Harga jasa yang ditawarkan adalah sekali foto Rp. 15.000. Dengan kamera yang sudah digital, sampel hasil foto ukuran 10 R itu ditawarkan pada orang-orang. Setuju, dan klik, periksa, kalau belum pas, bisa ulang, lalu tunggu barang 15 menit. Masih di taman itu, seperangkat printer siap mencetak hasil bidikan.


Sebuah keluarga berkumpul dan Sang Juru foto keliling memainkan peran gandanya sebagai penata gaya.

"Siap?" kata Sang Juru foto.


Merasa kurang puas, dua anak gadis dari keluarga itu minta di foto terpisah.


Saatnya ricek hasil jepretan
















Dengan wajah senang Sang Juru foto keliling membawa hasil bidikannya siap untuk di cetak.



Sunday, July 31, 2011

R.I.P. (masih)


Saya ingin melanjutkan catatan saya tentang kematian, tentang berbaring dalam tenang (rest in peace) itu, dari sebuah sajak terkenal berjudul Dan Kematian Makin Akrab karya Penyair Subagio Sastrowardoyo (1924 - 1995), yang judul sajak itu dijadikan judul buku kumpulan sajak terbitan Grasindo (1995). Berharap ada refleksi dari catatan saya sebelumnya pada sajak ini.


Dan Kematian Makin Akrab

Di muka pintu masih
bergantung tanda kabung
Seakan ia tak akan kembali -
Memang ia tak kembali
tapi ada yang mereka tak
mengerti - mengapa ia tinggal diam
waktu berpisah. Bahkan tak
ada kesan kesedihan
pada muka
dan mata itu, yang terus
memandang, seakan mau bilang
dengan bangga: - Matiku muda -
Ada baiknya
mati muda dan mengikut
mereka yang gugur sebelum waktunya.
Di ujung musim yang mati dulu
bukan yang dirongrong penyakit
tua, melainkan dia
yang berdiri menentang angin
di atas bukit atau dekat pantai
di mana badai mengancam nyawa.
Sebelum umur pahlawan ditanam
di gigir gunung atau di taman-taman
di kota
tempat anak-anak main
layang-layang. Di jam larut
daun ketapang makin lebat berguguran
di luar rencana.
Dan kematian makin akrab, seakan kawan berkelakar
yang mengajak
tertawa - itu bahasa
semesta yang dimengerti -
Berhadapan muka
seperti lewat kaca
bening
Masih dikenal raut muka,
bahkan kelihatan bekas luka
dekat kening
Ia menggapai tangan
di jari melekat cincin.
- Lihat, tak ada batas
antara kita. Aku masih
terikat kepada dunia
karena janji karena kenangan
Kematian hanya selaput
gagasan yang gampang diseberangi
Tak ada yang hilang dalam
perpisahan, semua
pulih,
juga angan-angan dan selera
keisengan -
Di ujung musim
dinding batas bertumbangan
dan
kematian makin akrab.
Sekali waktu bocah
cilik tak lagi
sedih karena layang-layangnya
robek atau hilang
- Lihat, bu, aku tak menangis
sebab aku bisa terbang sendiri
dengan sayap
ke langit -


(Foto di lokasi penggaraman Talise, NM)

R.I.P.

Hanya sedikit yang pasti. Satu dari yang sedikit itu adalah mati.


Kadang-kadang begini. Kita bangun pagi, dan sebuah pesan pendek di HP belum sempat terbaca. Ketika HP diaktifkan, sebuah pesan duka masuk ke inbox: telah berpulang...


Atau seperti sepagi ini (08/06/11). Saya baru saja bangun dan sedang menunggu air mendidih untuk menyeduh kopi. Dikejauhan sayup terdengar iringan kendaraan dan bunyi sirene ambulans yang semakin mendekat. Ada yang meninggal dunia. Sebagai sebuah peristiwa, kematian kadang menjadi sebuah hal biasa. Saya tak kenal siapa yang meninggal itu. Saya tak sedih. Sekalipun bawahsadar saya membatin, empati pada keluarga yang ditinggalkan. Innalilahi Wa Innailaihi Rajiun. Semua yang berasal dariNya akan kembali padaNya.


Saya yakin setiap orang pernah benar-benar merenungkan kematian. Secuil apapun perenungan itu. Sebagai sebuah peristiwa biasa, kematian adalah hal yang terberi (taken for granted) bagi kehidupan. Setiap orang mati. Sekuat apapun dia, selucu apapun, secantik, secerdas, dan segala apa yang melatari yang hidup. Tapi ada yang luarbiasa dari ke-biasa-an dalam mati itu. Misterinya. Kematian menjadi luarbiasa ketika dia datang menjemput orang-orang terdekat, yang kita kenal, yang kita cintai. Juga ketika seperti yang saya singgung diawal, direnungkan.


Asumsi saya pada hal perenungan itu adalah takut.




Saya punya kakek, saya memanggilnya Tete. Sudah alamarhum. Di tahun-tahun terakhir sebelum ajal menjemputnya, dia sering bilang begini: ”saya mau Tuhan ’ambil’ saja saya”. Ini ungkapan yang berani. Ini tidak seperti asumsi saya barusan. Saya tidak anggap pernyataan Tete ini berniat mendahului. Mungkin dia merasa ”cukup” dengan usianya itu. Asumsi, karena saya tidak pernah bertanya, berdiskusi pada orang-orang yang lanjut usianya, bagaimana mereka menyikapi usia mereka yang sudah senja itu dan kematian menjadi dekat. Umur rata-rata seseorang 70an tahun. Yang 80an bonus, yang 90-100an adalah pengecualian.


Sebagian besar orang mungkin berpikir, hal biasa lainnya dari kehidupan adalah pertumbuhan seseorang berangkat dari masa kanak-kanak, remaja, dewasa, tua dan akhirnya mati. Tesis ini pun tanpa disadari mulai digerus oleh perkembangan peradaban.


Semoga telinga dan mata kita menjadi lebih akrab dengan informasi bahwa kematian karena penyakit-penyakit degeneratif yang awalnya dekat dengan lansia, menjemput juga mereka yang berada di usia-usia menengah, produktif, bahkan anak-anak dan remaja. Gaya hidup, pola konsumsi, berjalan seiring dengan pencapaian peradaban itu: rekayasa ilmu dan teknologi, juga realitas sosial dan politik.


Umur 30-40an sudah stroke, kolesterol, jantung, diabetes, kelainan ini, kelainan itu, virus ini, virus itu, mati. Di era-era sebelumnya mungkin jarang, bahkan tak pernah terdengar.


Mati ya mati. Dengan beragam cara. Selain karena sakit, karena tua, ada yang tak di harap, celaka, bencana. Kadang kita nyaris tak percaya karena beberapa kematian berkesan irasional. Pada situasi perang, misalnya. Kematian begitu dekat dan nyawa orang menjadi sangat ”biasa”.


Dalam pandangan Islam yang saya anut, saya meyakini akhir yang baik (khusnul khatimah), serupa doa, harapan agar mengakhiri hidup dengan cara yang baik. Saya takut mati. Takut dalam arti saya belum siap, atau belum mau, masih banyak dosa dan seringkali itu saya alpa bertobat, atau bolehlah saya berharap, karena masih ada banyak hal yang ingin saya lakukan.


Saya masih ingin melihat anak-anak saya tumbuh, lucu, besar, dan membanggakan. Cinta saya yang besar pada keluarga dan bangsa. Saya masih punya mimpi dan cita-cita yang belum terwujud. Masih banyak. Tapi saya meyakini garis batas hidup yang ditentukan Sang Pencipta. Saya berpikir, garis batas itu adalah garis negosiasi, waktu doa adalah upaya (ikhtiar) setiap orang di garis batas yang lain, mengharap.


Saya pernah merasa takut mati. Mungkin sebuah fase lain dari hidup saya yang di suatu waktu ketika ketakutan yang entah mendera saya hampir berbulan-bulan lamanya. Saya menyebutnya gangguan kecemasan. Mengganggu tidak saja pikiran, psikis, tapi juga fisik. Saya jadi lemah. Di bulan-bulan yang lewat itu saya berserah untuk tidak melawan kecemasan itu. Karena semakin saya melawan, rasanya semakin kuat dia menerjang.


Tapi saya berbagi dengan banyak kawan, termasuk psikiater, dokter umum, hingga internist. Dan berusaha menulis. Sekalipun ketika ingin memulai tulisan, rasa lemah seringkali menyergap dan saya meninggalkan. Membaca juga tidak. Pendeknya saya susah berkonsentrasi pada hal-hal yang ingin saya lakukan.


Beberapa kawan yang mengalami hal sama kebanyakan mendiagnosisnya sebagai Maag akut. Entah kenapa, usus yang mengurusi pencernaan di tubuh bisa mempengaruhi sedemikian rupa otak yang bekerja memikirkan, memerintah motorik pada indera-indera manusia. Saya mengamini saja karena bukan dokter. Karena dengan begitu rasa penasaran saya berkurang. Beberapa kawan yang bercerita itu sampai ada yang ketika Maagnya menyerang, ketakutan juga menyergap, kematian seperti sangat dekat, peluh bercucuran padahal tak gerah, dan sesegera mungkin mencari kawan untuk mendapatkan perhatian.


Diagnosis sendiri, Hipokondriak, menjadi semacam bentuk upaya mendamaikan situasi takut itu. Jangan-jangan sakit ini ya, jangan-jangan itu...


Beberapa contoh cerita dari kawan-kawan itu sedikit banyak serupa dengan yang kadang saya alami. Tapi kembali ke inti, saya percaya benar ini soal takut pada mati.


Atau begini, ada perbandingan dengan daya hidup antara seseorang dengan saya, kita. Kita, yang masih terbilang muda, mungkin pernah merenungkan, beberapa orang yang kita teladani, beberapa dari mereka saat kita merenung sudah berada di usia lanjut, beberapa yang lain malah sudah mati. Ketika mereka berumur sama dengan umur kita sekarang, capaian yang telah mereka lakukan, misalnya, sungguh luar biasa, dan kita berupaya meneladani pencapaian itu. Mereka bisa saja tokoh di dunianya masing-masing. Negarawan, politisi, seniman, penulis, aktifis sosial, atau orang-orang biasa yang berdedikasi pada hidupnya sebagai orang-orang biasa. Orang tua kita misalnya.


Bapak saya meninggalkan Ibu, saya, kami, di usianya yang belum juga 50 tahun. Saya suka bertanya merenung dalam hati, seperti ketika menuliskan catatan ini, mungkin di umur yang sama dengan saya ketika saya merenung, dia tak pernah merenung, tapi sedang bertarung mencari nafkah untuk jaminan masa depan sekolah anak-anaknya, masa depan keluarganya. Bung Karno di umurnya yang 33 tahun sedang bergiat apakah dia saat seumur itu? Pramoedya Ananta Toer, karib saya Heru Sudjoko, tetangga saya Pak Acang, Ibu saya, Bill Gates, dan tak tahu siapa lagi.


Yang pasti itu mati. Saya meyakini hal terakhir dari mati adalah melepasnya segala hal pada dunia dan masuknya sebuah babak lain yang baru ketika kita seperti uap udara yang ringan, kekal, abadi. Saya tak ingin berceramah panjang soal ke-abadi-an ini. Yang saya bayangkan adalah berbuat baik pada setiap hal yang saya kerjakan pada hidup saya di bumi. Titik.


Terakhir, tentang daya hidup itu. Hal yang rasanya tak ingin saya lepaskan dari sisi lain koin kehidupan: mati. Menulis, menjadi cara paling damai untuk mendamaikan koin yang senantiasa bergerak berputar itu. Saya tidak ingin lenyap dari jejak kefanaan. Anak-anak saya tahu, istri saya, kawan-kawan dekat saya, bapaknya, suaminya, kawannya menuliskan harapan, yang hampir tak ada di kenyataan berbangsa kita saat ini, bahkan bumi yang usianya sudah sangat tua ini. Tentang daya hidup itu. Anggap saja tulisan pun doa, suatu saat saya berpulang dalam akhir yang tenang dan baik-baik saja. Amin.


Suatu kali Pelatih klub sepakbola Barcelona, Pep Guardiola bilang, kita harus punya sedikit rasa takut dengan kadar tepat agar bisa tidak terlalu takut.



(Foto Senja di Teluk Palu, oleh Rochiyat Sulaiman)

Maafkan Aku, Blog


Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. (Pramoedya Ananta Toer)


Saya akan menulis. Sesuatu hal melintas dalam benak saya. Seringkali begitu. Itu dalam hati ketika sedang entah melakukan apa. Nyatanya, tak ada tulisan yang saya tulis setelah komputer sudah menyala. Yang saya lakukan hanya mengaktifkan media sosial dan melupakan hal yang melintas tadi dalam bincang-bincang yang ditulis, komentar-komentar yang ditulis, perasaan-perasaan yang ditulis. Paling banyak –dengan acuan perintah media sosial Twitter yang juga hanya 140 karakter.


Koran saya bentang. Buku saya buka. Majalah dan informasi di internet saya tatap. Ketika jalan-jalan lihat sampah, kemiskinan, penjual yang melayani, pegawai pemerintah yang saya ajak diskusi, orang-orang dengan kemapanan, asyik bicara ini, bicara itu. Semua itu saya baca. Beberapa hal dari yang saya baca itu memantik untuk bersegera di tulis.


Kemudian saya akan menanyakan pada diri saya sendiri, apa motif saya menulis. Menyampaikan gagasan, keinginan, lewat huruf yang jadi kata lalu jadi kalimat? Ingin dikenal dan dapat pujian, ingin dapat uang karena tulisan bisa dihargai oleh media massa dan utamanya pembaca?


Semua yang diatas itu ideal dalam hal menulis. Karena susah mencapai ideal itu, maka saya hanya ingin menulis saja.


Saya masih menulis, dan ingin tetap terus menulis. Saya mematri ini. Sekalipun di waktu yang bersamaan saya malas menulis. Dua hal yang berdialog dalam diri ini karena keinginan menghidupkan kembali blog yang pernah saya isi dan mungkin sudah setahun lebih jarang saya isi tulisan lagi.


Seperti ranah aktifitas manusia lainnya, menulis pun butuh disiplin. Teorinya begitu. Di waktu yang bersamaan ego saya muncul, saya moody, dan tak ingin latah pada isu-isu besar yang di konsumsi publik.


Sejauh ketika saya menuliskan catatan ini, saya sedang berusaha mengimani untuk merawat kembali blog saya ini. Serupa bunga, saya harus menyiraminya setiap waktu. Mungkin tak harus setiap hari karena bisa membusuk dan mati. Tapi paling tidak saya harus menyiramnya seminggu sekali.


Suatu waktu, saya diberi ruang untuk mengisi tulisan minimal sebulan dua kali, sebuah rubrik lepas di sebuah harian di Palu. Awalnya saya rajin mengirimkan tulisan. Kesini-sininya, saya kehilangan motivasi. Dunia riil seolah memaksa saya meninggalkan kerja ”menulis” di media itu. Ada kegiatan lain yang sebenarnya menulis juga tapi bisa menghasilkan uang. Pekerjaan-pekerjaan riset yang saya kerjakan di banyak proyek kelembagaan itu menyita waktu. Dunia riil yang saya maksud itu. Lalu apakah berarti saya menulis butuh imbalan uang? Ya!


Saya memberi tanda petik pada kata menulis yang saya anggap sebagai sebuah laku subtil, hal terdalam dari subyektivitas saya sebagai aku-yang-menulis. Menulis dalam konteks ini menurut saya adalah permenungan pribadi, kontemplasi.


Baiklah blog, mungkin selama ini saya goblog meninggalkanmu sepi di ruang maya. Mulai dari tulisan ini saya akan mencoba merawatmu kembali. Semoga.


Dan hal yang paling menyenangkan dari sebuah pekerjaan adalah ketika pekerjaan yang kita lakoni itu adalah hobi, dan bukan karena penjara situasi.



(Foto Jade dan Ruby di Taman GOR Palu, oleh Indri)

Thursday, July 22, 2010

Voorrijder

Pak SBY yang kami hormati, mohon pindah ke Istana Negara sebagai tempat kediaman resmi presiden. Betapa kami saban hari sengsara setiap Anda dan keluarga keluar dari rumah di Cikeas. Cibubur hanya lancar buat Presiden dan keluarga, tidak untuk kebanyakan warga.

HENDRA NS
Cibubur


(Lebih lengkap baca http://www.radenz.com/2010/07/isi-surat-trauma-patwal-presiden-hendra-ns.html atau http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2010/07/16/59895/Presiden-akan-Tindak-Tegas-Patwal-Presiden)

Saya tidak sampai trauma seperti Hendra NS yang paragraf akhir surat pembacanya saya kutip sebagai pembuka tulisan ini. Surat pembaca yang terbit di harian Kompas (16/07/10) itu memantik perhatian Presiden SBY yang kemudian meminta maaf.


Saya tidak sampai trauma. Saya hanya sempat membayangkan enaknya jadi orang penting ketika berada di jalan raya. Kemana-mana lancar. Voorijder alias patroli pengawal zig-zag di depan menyisir bahu jalan.


Kebetulan terjadi pada saya (18/07/10), ketika harus mematuhi perintah seorang polisi mematikan motor di tengah jalan selama kurang lebih 30an menit –dan kendaraan-kendaraan lainnya yang ada di situ tentu saja. "Istri Wapres Boediono, Ibu Herawati," kata pak polisi di depan saya, melintas dari arah utara jalan Moh. Yamin (Jalur Dua) menuju ke Gedung Siranindi, tempat istirahat tamu-tamu penting daerah. Kala itu banyak vip (very important person) dan vvip (very-very) mondar-mandir di kota dengan pengawalan dan bunyi sirene jauh terdengar dimana-mana untuk acara Hari Keluarga Nasional (Harganas).


Saya mengabadikan momen dalam hitungan detik itu dengan kamera.


Mungkin ini memang bagian dari kebijakan protokoler terhadap orang-orang dalam kategori penting atau sangat penting. Tapi haruskah, misalnya, meminta pengertian orang-orang lain dalam kategori tidak atau kurang penting atau sangat tidak atau kurang penting?


Masih segar dalam ingatan ketika saya SD (1990) menunggu hampir setengah hari dengan bendera mini dari lidi dan kertas minyak merah putih yang dilambaikan dari pagi di jalan yang sama, Presiden Soeharto melintas dari Kapopo, Ngata Baru, setelah meresmikan penghijauan disana. Di absen. Itu artinya wajib. Hmmm....


Dalam sedan bening yang kaca-kacanya gelap, pak presiden melaju kencang. Tak ada lambaian tangan balasan, hahaha....


Cara-cara soft buat pelajar begini rasanya sudah tidak digunakan lagi. Tapi sebagai tuan rumah yang baik, siang itu saya mencoba memahami dan mematikan motor. Beberapa orang di belakang saya menggerutu kesal.


Monday, July 19, 2010

Atam, Mantap Sejak Agustus 1982

Rata-rata suhu udara siang di Palu adalah plus minus tigapuluhan derajat celcius. Beberapa hal menyenangkan yang biasa dilakukan orang di saat-saat seperti itu adalah mandi, berdiam diri di ruangan berpendingin udara, minum es. Atam menyadari betul hal yang terakhir, kesadaran yang dipahami laki-laki Banjar itu sejak Agustus 1982, seperti cerita isterinya yang orang Sunda.

Jualan utama Atam tidak hanya es cukur. Mi instan (kuah dan goreng) juga adalah menu favorit pelanggannya yang kebanyakan anak-anak muda. Serutan es Atam di padu dengan sedikit pemanis warna dan susu kental coklat, dan di saji dalam dua macam gelas: sedang dan besar. Macam-macam olahan kacang tanah dan kue-kue yang dibungkus daun pisang disediakannya dalam toples-toples sebagai teman es.


Waktu saya SMA, saya tak pernah tahu warung yang ada di jalan Mangga I, Palu Barat ini. Mungkin karena jalan itu bukan jalan utama seperti tetangganya, jalan SIS Aldjufrie –Warung Atam bahkan berada bukan di jalan ”raya” Mangga.

Sekolah dan pergaulan saya ada di Palu Timur –timur dan barat ini adalah penanda dua kawasan yang terpisah oleh Sungai Palu dan batasnya dianggap berada di jembatan-jembatan yang dilintasi sungai itu. Saat ini secara administratif terbagi dalam 4 kecamatan: timur, barat, utara, selatan.

Saya tak begitu yakin warung yang buka hingga sore ini hanya eksis bagi orang di Palu Barat. Beberapa senior saya yang usianya 10-15 tahun lebih tua dari saya, tinggal dan sekolah bukan di Palu Barat punya banyak memori tentang warung kecil ini ketika mereka SMA atau kuliah.


Sejarah warung kecil ini mengalahkan teori-teori pemasaran yang misalnya meyakini usaha harus ada di jalan-jalan utama. Hingga saat ini, apalagi waktu siang yang terik, pelanggan lama Warung Atam masih suka mampir dan memesan es.

Wednesday, February 10, 2010

Video Art, Gampang-gampang Susah

video

Paperbag Scene (American Beauty, Sam Mendes, 1999)


Saya ingin memulai tulisan ini dari sebuah film Hollywood”berisi” yang box office berjudul American Beauty (Sam Mendes, 1999). Bukan topik dari film yang bercerita tentang potret keluarga ”sakit” karena mimpi-mimpi Amerika itu yang ingin saya ambil sebagai bahan tulisan, tapi soal beberapa scene (adegan) dalam film itu yang menyajikan betapa enteng sesungguhnya menerjemahkan ide-ide disekitar kita menjadi gambar yang bergerak dan bersuara.


Seorang remaja pria tanggung (Wes Bentley) yang hari-harinya diisi dengan menenteng-nenteng camcorder dan mengabadikan apa saja mulai dari kegiatan tetangganya, yang ditemui dijalan, sekolahnya, hingga kesehariannya di rumah. Pada sebuah adegan, remaja pria tanggung itu mempresentasikan karyanya pada seorang perempuan sebaya tetangganya.


God is small things, tulis Arundhati Roy, pada judul buku fiksinya. Remaja itu merekam sebuah peristiwa kecil yang mungkin untuk ukuran banyak orang tak memberi kesan apa-apa kecuali yang tampak pada mata kasat: sebuah kantong plastik bekas yang terbang kesana kemari dipermainkan angin namun seolah sedang bermain, berangsur-angsur bergerak jauh, lensa tetap berfokus padanya. Desis angin yang meniup plastik itu seperti perumpamaan (metafora) percakapan manusia yang memperkuat adegan-adegan ganjil itu, yang ditambah instrumentalia organ klasik mendayu-dayu getir dibelakang. Remaja itu seperti sedang ingin menjelaskan siapa dia dan bagaimana dia dan hidup saling bercengekrama. Kantong plastik bekas dan angin menjadi metafornya.


Saya menyebutnya video art. Serupa puisi yang tidak dimaknai konvensional, ditulis dan dibacakan oleh penyairnya. Juga tidak seperti pakem film konvensional yang ada alur (plot) ceritanya, ada konfliknya, ada orang-orang bercakap atau narasi yang dibacakan oleh orang pertama. Film yang seperti ini (video art) menurut hemat saya adalah medium baru bagi siapa saja yang ingin mengabadikan semua hal yang bergerak dan bersuara. Tantangannya kemudian adalah melanjutkan hal-hal kecil ini menjadi metafora, menjadi semacam sebuah pesan ke struktur terdalam kesadaran kita yang ingin meresepsinya sebagai tontonan. Agak repot karena tafsir menonton kita kadang suka berhenti dilapisan kulit ari yang superfisial oleh cerita-cerita yang terlalu realis, kadang tidak logis.


Disatu sisi gampang. Apa susahnya merekam aliran air di selokan atau yang sedang mengucur jatuh dari keran. Atau sekadar merekam percakapan orang dengan tanpa tendensi apa-apa. Lagipula teknologi menjadikan semua proses itu dimungkinkan. Tak harus kamera profesional. Fitur perekam pada telepon genggam juga sudah bukan barang langka. Soalnya kemudian adalah, apakah kita punya kepekaan (empati) pada hal-hal yang terjadi di sekeliling kita, yang kemudian bisa kita tangkap menjadi ide, syukur-syukur pesan, dan kita pindahkan ke medium menjadi gambar-gambar yang bergerak dan bersuara. Disitulah letak susahnya.


Tak ada yang salah dari sebuah rencana membuat mahakarya (masterpiece) dalam sejarah hidup setiap kita. Bagi pemula termasuk saya, jebakan-jebakan itu, membuat sesuatu yang besar, dahsyat, monumental adalah naluri lain yang bekerja pada setiap manusia. Saya memakluminya, sekadar mencurigainya dengan positif, karena energi yang berlebih diusia muda. Ketika hal-hal kecil bisa kita selesaikan, hal-hal besar biasanya mengikuti. Saya mengimani ini. Small is Beautiful kata E. F. Schumacher, penulis buku ekonomi klasik yang juga ingin saya kutip dalam tulisan ini.


Saya jadi ingat petuah bijak. Bukan soal susahnya sesuatu, tapi memulainya. Mulainya mungkin tanpa pesan. Rekam apa saja. Abadikan!



(tulisan didedikasikan untuk event Bioskop Filem Pelajar Palu, 14-15 Februari 2010)