Wednesday, April 3, 2013

JENUH

CATATAN FORUM SKPD dan MUSRENBANG KOTA PALU 2013


SAYA mengikuti proses selama dua hari (26-27 Maret) kegiatan Forum SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) –kata lain dari kantor, dinas, badan, yang dirangkaikan dengan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) yang diselenggarakan Bappeda Kota Palu. Ada banyak catatan dari kegiatan yang baru pertama kalinya saya ikuti itu.

Kegiatan dua hari itu dibagi dalam dua sesi besar, hari pertama adalah presentasi dari SKPD, hari kedua para peserta yang juga termasuk unsur masyarakat dan akademisi, digabung dalam pembagian kelompok berdasarkan 3 isu utama dalam hal usulan: sosial budaya, ekonomi produktif, dan fisik prasarana.

Sebagai sebuah forum besar di level kota, kegiatan itu saya anggap sebagai proses formal terakhir setelah proses-proses yang sama sebelumnya dilaksanakan secara bertahap dari tingkat kelurahan dan lalu kecamatan. Itulah forum di mana kantor, melalui kepala dinasnya, atau yang mewakili, menjelaskan apa yang belum dicapai, apa yang sudah dicapai, dan apa yang akan dicapai setahun ke depan.

Itu pula forum di mana semua hal harusnya diperdebatkan dengan elegan, terkait anggaran dan kegiatan-kegiatan penting yang jadi prioritas karena sumber daya anggaran terbatas, sebagai upaya merasionalisasi kebutuhan, juga untuk mendekati visi dan misi kota yang disepakati itu, yang dikuatkan pula oleh peraturan.

Forum yang seyogyanya dirayakan sebagai alat ukur capaian berkota itu, juga adalah alat menyaring banyaknya kepentingan, kenapa yang x didahulukan, sebaliknya yang y tidak, dan seterusnya.

Apa yang saya rasakan dari proses dua hari itu? Kejenuhan yang teramat sangat. Yang lainnya? Saya membayangkan sebuah kota, yang di dalam kota itu orang-orang bekerja sendiri-sendiri untuk satu hal yang tidak begitu pula dimengerti: visi.


Pada tema kemiskinan misalnya. Kantor-kantor bekerja dengan pendekatan sendiri-sendiri, dengan dampingan masyarakat sendiri-sendiri, pendekatan program dan kegiatan di masing-masing yang sendiri-sendiri, yang itu berarti sajian datanya pun sendiri-sendiri.

Seperti yang disampaikan oleh Kepala Dinas Pariwisata, Sudaryano Lamangkona, yang merasa berjalan sendiri perihal kawasan religi di jalan Sis Aljufri itu. Sebagai leading sector di topik itu, ada sektor-sektor lain yang harusnya mendukung: penataan ruang, penyiapan infrastruktur, dukungan bagi ukm, dan pendukung lainnya untuk mewujudkan kawasan tersebut. Dinas yang harusnya jadi perhatian karena menjadi salah satu kata kunci terkait visi kota itu, juga merasa sendiri pada soal-soal lain terkait tata kawasan Gandaria, yang diakui dalam peraturan daerah tentang rencana tata ruang kawasan, sebagai teras depan di sepanjang pesisir teluk, sebagai fokus prioritas kawasan wisata.

Kolaborasi, integritas, dua kata kunci yang menjadi judul tema kegiatan itu, bersama kata lainnnya, koordinasi, dan kata-kata teknis dari bahasa serapan asing itu menjadi yang paling sering diucapkan, diumbar, dipilih sebagai diksi yang orientasinya retorika belaka tanpa jiwa, yang enak di lidah tapi tanpa pelaksanaan.

Saya jadi ingat penggalan syair WS Rendra, “perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata.”

Itu belum soal lain terkait pemberdayaan masyarakat atau akses pelayanan publik pada dua hal dasar, pendidikan dan kesehatan, yang secara nasional diakui sebagai prioritas.

Saya kemudian merepresentasikan kejenuhan saya itu pada situasi yang sama: jenuhnya birokrasi. Mungkin karena saya pikir itu adalah kegiatan rutin yang sifatnya wajib. Seperti orang yang beribadah karena tendensi menggugurkan kewajiban, dan bukan refleksi, dari apa-apa yang terjadi di keseharian kota: penataan ruang dan kawasan, sampah, konflik komunal, reformasi birokrasi, akses layanan pendidikan dan kesehatan, yang semuanya terasa masih jauh panggang dari api, dan setumpuk soal lain.

Bappeda sebagai yang punya hajatan, sebagai event organizer kegiatan tahunan itu, tentu tak bisa disalahkan sepenuhnya. Pun juga para peserta, termasuk saya, yang ketika presentasi berlangsung tak merasa betah berlama-lama. Sayangnya, sekalipun dalam banyak hal kegiatan itu punya banyak keterbatasan, saya kecewa tak ada satu pun wakil rakyat yang hadir dalam kegiatan itu. Entah kenapa.

Saya tidak dapat undangan resmi yang berupa kertas fisik. Keterlibatan dalam banyak hal dengan kota, membuat saya merasa wajib hadir, sekali pun hanya tahu dari bincang-bincang di warung kopi. Saya merasa ada yang harus diubah pelan-pelan dari kota ini soal partisipasi, inisiasi, dalam beragam bentuk: hadir dan atau sekadar menulis kegalauan berkota.

Kegalauan yang sama seperti ketika pembagian kelompok pembahasan di hari yang kedua. Saya berpikir, untuk urusan sederhana menata ruang kelompok saja kita punya masalah, bagaimana pula kita melihat yang lebih besar dari sana: menata kota. Dua kelompok yang di tata di satu ruang pembahasan tentu akan saling bertabrakan suaranya karena pengeras suara, chaos, memecah konsentrasi.



Hal-hal sederhana yang terasa biasa, yang liyan dan  karenanya sepele, mungkin serupa contoh lain ketika kita berupaya menuju kota yang bersih. Mari kita tengok kantor-kantor kita, bersihkah? Jika belum, di situasi masyarakat yang begitu kental paternalistiknya, jangan berharap ada perubahan jika anutan tak berubah, bukan?

Saya juga tidak menemukan penjelasan sedikit pun dari yang mengelola pendidikan, sektor penting yang bagi saya wacananya lebih banyak ke soal fisik infrastruktur daripada hal-hal yang substantif terkait pemutuan dan layanan.

Menarik tidaknya kemasan sebuah acara, akan tergantung metode kreatif yang digunakan. Kejenuhan birokrasi terjadi di mana-mana, saya pikir karena soal birokrasi itu sendiri, yang lebih suka merebahkan dirinya pada soal-soal ajeg perihal protokoler dan kesantunan yang kulit ari, dan bukan pada substansi, di mana kreatifitas dan seni mengelola keajegan –atau kebekuan dimungkinkan dan bahkan dipraktikkan menjadi sebuah pendekatan.

Sebagai insitusi perencana daerah, di kegiatan itu saya membayangkan Bappeda sebagai sutradara teater yang pemain-pemainnya adalah SKPD, atau sebagai konduktor bagi sekumpulan orang yang memainkan musik orkestra. Sebagai sutradara, Bappeda harusnya punya kewenangan menentukan skenario yang diperankan SKPD dalam semua proses pembangunan, mengawal akting teater atau bunyi orkestra agar tidak keluar dari tema, menegur bila perlu jika salah, dan sampai pada akhirnya merayakannya dalam forum rutin yang hanya dua hari itu. Selain DPRD dan Dinas Pendidikan, olehnya saya juga kecewa kegiatan itu tak dihadiri wali kota, yang berkuasa penuh pada sutradara teater dan konduktor orkestra.   

Kita patut mengapresiasi pencapaian-pencapaian yang telah diupayakan dari apa-apa yang disampaikan oleh para kepala dinas, dengan tentu saja banyak catatan.

Nyaris tak ada masalah di kota ini dari semua paparan itu. Capaian-capaian angka disebutkan, target-target diraih, dan proyeksi-proyeksi ke depannya disampaikan. Kesan yang coba saya tangkap, kalau pun ada masalah, ya mungkin begitulah dinamikanya, begitulah adanya. Terima saja. Sembari berjanji akan memperbaikinya di hari depan.

Di hari setelah semua peserta bubar dari acara sore itu, tersisa setahun lebih bagi birokrasi Kota Palu bekerja untuk mencapai visi sebagai kota teluk berbasis jasa pariwisata, industri, dan perdagangan yang berwawasan ekologis. Pertanyaannya kemudian adalah, bisakah? Semoga!


Catatan: tulisan ini dipublikasikan di rubrik mingguan Indie, Media Alkhairaat, terbit sabtu, 30 Maret 2013

Wednesday, March 20, 2013

Mengintip Peta Kreatif Palu


INFORMASI yang tak lagi berbatas ruang waktu itu berdampak juga akhirnya di sebuah kota yang bernama Palu.

Gelombang informasi itu memberi stimuls baru bagi hadirnya beragam kreatifitas bermotif bisnis –kemudian didefinisikan sebagai ekonomi kreatif. Secara umum, karena baru dalam konteks Indonesia dan lalu Palu, saya menyebutnya denyut –jika kemudian pertimbangan utamanya adalah perputaran uang dan angkatan kerja di sektor itu.

Ada banyak kendala, memang, dalam kebaruan yang didengung-dengungkan itu, oleh karena pelaku usaha ekonomi kreatif yang diidentikkan sebagai usaha mikro kecil menengah yang secara empiris identik pula dengan masalah akses pembiayaan/modal, akses pasar, manajemen usaha dan sumber daya, termasuk apresiasi atas produk barang atau jasa kreatif dan rentetan kendala lainnya.

Namun lebih daripada itu, potensi lain dari sana adalah para pelakunya –yang sebagian besar orang muda, berusaha menjadi pusat yang mengaktualisasi dirinya: berimajinasi, menciptakan produk barang dan jasa, juga mengatasi kendala-kendala, dengan modal utama kreatifitas dan intensitas promosi di media sosial internet (Blog, Facebook, Twitter, dll).   

sumber image


Dengan atau tanpa ekonomi kreatif yang didengungkan pemerintah dengan cetak birunya di 14 subsektor itu, kreatifitas sudah berdenyut di Palu. Meskipun ke 14 subsektor yang berciri urban itu terasa belum mewakili potensi usaha kreatif lainnya, misalnya kuliner atau yang berkaitan dengan sektor yang mengolah hasil bumi. Beberapa dari profil pelaku usahanya akan saya urai dari informasi terbatas yang saya kumpulkan (sebagian besar dari data event Palu Creative Fest yang diselenggarakan StepMagz pada 27-28 Desember 2012), belum termasuk sanggar-sanggar seni, seniman, komunitas-komunitas, penyelenggara acara, usaha kuliner, kerajinan (sofa rotan, bambu, dan ebony), radio, televisi, dan usaha kreatif lainnya yang sudah lama atau baru saja eksis. Atas alasan itu, saya berharap umpan balik dari pembaca, untuk kebutuhan memperkaya informasi atas tulisan ini.

Disusun tidak berdasarkan alfabet.


Ira Devi Miranty

Rendra Towidjoyo (Layanan computer dan piranti lunak)
Penulis buku-buku Teknologi Informasi



Cinerama (Musik)


Veky and Friends (Musik)





Jln. Katamso No. 11, Palu

IDEC (Riset dan pengembangan, Penerbitan)

Kompleks Dinas Pertanian Sulawesi Tengah



Jl. Ki Hajar Dewantoro No. 28



S22 (Percetakan, Fesyen)






MEDIA

SKETSA (Desain)

KAFE UJUNG (Film)

Koskosan Production (Film)
Eldiansyah

Saturday, March 16, 2013

MARSINAH YANG NIRBATAS RUANG WAKTU


MARSINAH, perempuan buruh pabrik di Porong Sidoarjo itu adalah ingatan sosial yang tak akan pernah terhapuskan. Sejak ditemukan menjadi mayat pada 8 Mei 1993, akibat penyiksaan hebat yang dialaminya karena menjadi motor penggerak kawan-kawannya yang menuntut hak-hak buruh, tafsir atas dirinya tak akan pernah lekang oleh zaman.

Benarlah kiranya apa yang disampaikan oleh Mirek, tokoh di novel The Book of Laughter and Forgetting, karya Milan Kundera itu, bahwa perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan melawan lupa.

Setiap upaya bagi tafisr baru pada Marsinah adalah upaya untuk melawan lupa sembari mengekalkan ingatan dari sepenggal sejarah hitam Indonesia. Marsinah menjadi penanda kisah keji kemanusiaan yang menerabas ruang dan waktu. Tak hanya di Indonesia, kisah perempuan yang jadi simbol perlawanan buruh itu menjadi milik dunia. Sejak kematiannya, hingga sekarang, tafsir baru dalam banyak media dan disiplin hadir memberi peringatan.

Dan tafsir baru itu hadir pada kamis malam (14/03) di gedung pementasan Taman Budaya Propinsi Sulawesi Tengah oleh penampilan monolog. Naskah lama karya Ratna Sarumpaet berjudul Marsinah Menggugat (1997) itu diperankan dengan penuh totalitas oleh akting Deita. Sutradara pementasan, Mohamad Nurdiansyah atau yang lebih dikenal dengan nama panggilan Toto, menghidupkan kembali getir di menit-menit terakhir Marsinah yang mengalami penyiksaan dan akhirnya secara tragis dibunuh.

Tata panggung yang minimalis –hanya ada Marsinah sendiri dan sebuah bangku tempat interogasi, sudah sangat menjelaskan kengerian penyiksaan yang tak seharusnya dialami oleh siapapun manusia, kata Marsinah dalam sepenggal monolog itu.

Deita yang memerankan kesakitan yang teramat sangat yang dialami Marsinah, mengolah kesakitan itu sedemikian rupa dalam intonasi suara dan gerak tubuhnya. Ada yang membahagiakan dari sana, muncul bakat-bakat baru seni peran yang dilakoni perempuan, karena kesan aktor lelaki yang lebih sering dalam banyak pementasan. Kritik setelah pementasan datang, kostum Deita yang kurang menggambarkan kesakitan itu.

Pentas malam itu ditujukan untuk persiapan menghadapi perhelatan Festival Monolog  yang akan diselenggarakan di Jember, Jawa Timur, 25 – 27 Maret 2013.

Foto katalog pementasan dari http://www.facebook.com/photo.php?fbid=4308746970532&set=a.2020544126891.92208.1642585311&type=1&theater&notif_t=photo_comment_tagged

Sekali lagi, tafsir atas Marsinah tak hanya ada di naskah monolog atau drama, tapi juga film yang pernah dikerjakan oleh Slamet Rahardjo, dan bahkan musik. Semua dari tafsir itu awalnya mendapat penolakan dari negara. Apa yang telah dilakukan Toto dan Deita adalah upaya yang tak hanya sekadar seni tapi juga komitmen kemanusiaan. Atas alasan itu, kita seharusnya memberi apresiasi yang setinggi-tingginya.

Tuesday, October 2, 2012

PARLOW

Buku Narasi Kapten David Woodarddan Empat Awak Kapal (1793), yang ditulis oleh William Vaughn (1804)


MINGGU ini dan setiap tanggal 27 September, umur kota ini bertambah. Umur yang sama dengan umur saya: tiga puluh empat tahun.

Kalau kota-kota besar lain mulai susah berlari karena sesak akibat pertambahan penduduk dan wilayah yang semakin sempit, Palu dalam analogi itu malah sebaliknya. Pertambahan penduduk meningkat dari hari ke hari. Kost menjadi fenomena baru kota. Lalu lintas manusia dan barang mulai terlihat. Buat saya, identifikasi sebuah kota menjadi sebenar-benarnya kota adalah ketika semakin sulitnya kita bertemu dengan kenalan di ruang-ruang publik. Banyak orang baru yang membuat kata dinamika menemukan tempatnya.

Ruang di wilayah sabuk (green belt) di timur dan barat kota masih banyak yang kosong. Di beberapa titik di kekosongan itu rumah-rumah baru yang dibangun seragam mulai nampak mengisi kekosongan. Bisnis pemukiman menjadi komoditi baru bagi Palu. Pun di tengah kota yang mulai tak asing dengan gaya klaster, yang eksklusif, dan menegaskan esklusifitasnya melalui tembok-tembok pembatas.

Di beberapa ruas jalan di tengah kota, pada jam-jam tertentu kemacetan mulai menjadi kebiasaan baru. Kendaraan baru dari berbagai merek keluar ke jalan dalam hitungan puluhan, mungkin bahkan ratusan, dalam hitungan hari. Di beberapa titik di ruas kesibukan itu, waktu terasa berdenyut 24 jam.

Kepala kita mulai belajar mendongak ke atas. Bangunan kantor, hotel-hotel, tempat hiburan yang sebagian besar bisnis waralaba tumbuh menjulang memanfaatkan ruang. Daftar bisnis waralaba itu sekarang menunggu antrian melihat ceruk pasar yang memungkinkan bisnis dijalankan. Ada yang agak tidak biasa bagi Palu  di umurnya yang masuk tiga puluh empat tahun itu.

Sama seperti kita, yang selalu punya resolusi, cita-cita ketika ulangtahun tiba. Palu pun demikian. Dalam cita-cita itu, masyarakat tumbuh berkembang dalam kesehariannya. Ada kekhawatiran di sana, beberapa kelompok dari masyarakat itu, ketinggalan dan meningkatkan kapasitas masyarakat menjadi kebutuhan. Negara melalui agennya, pemerintah daerah punya kewajiban untuk memastikan tak ada yang ketinggalan dalam proses kota yang sedang bergegas itu.

Saya membayangkan umur kota-kota memang seperti manusia. Beberapa kota setanah air malah ada yang sudah berumur ratusan tahun. Kota-kota dengan umur uzur itu bagi saya telah mengalami regenerasi, sebagaimana sekumpulan manusia yang tinggal di dalamnya, yang membentuknya, sebagai warga kota.

Interaksi manusia di Palu yang penamaannya berasal dari nama lokal untuk bambu ini, dalam catatan sejarah sebenarnya sudah sangat panjang. Di catatan harian pelaut David Woodard yang disunting oleh William Vaughn, The Narrative of Captain David Woodard (1793), tercatat sebuah nama: Parlow, yang berarti Palu, nama tempat yang oleh Woodard, dilisankan orang-orang yang berinteraksi dengannya saat itu. Agak mundur ke belakang, pada 1603, seorang datuk dari tanah Minangkabau datang untuk siar Islam. Abdullah Raqie, yang gelar datuknya dalam penyebutan lokal kemudian menjadi Dato, lengkapnya Dato Karama. Dalam proses dakwah itu, interaksi tentu saja terjadi dan membentuk kebiasaan-kebiasaan baru khas kota, ketika ada interaksi antara yang lahir dan tinggal di situ dan yang datang.

Umumnya umur kota ditandai oleh peristiwa-peristiwa administratif, dan bukan penanda historis. Pengertian ini membuat imajinasi kota dibangun oleh negara dan bukan komunitas masyarakat yang tinggal dan beranak pinak di kota itu. Tapi karena kesepakatan berkota terasa lebih mudah dicapai dengan cara yang seperti itu.

Untuk menyebut beberapa contoh, Bandung menetapkan waktu kelahirannya dengan pendekatan historis, ketika Daendels menancap patok untuk pembukaan jalan raya pos (Groote Postweg Anyer-Panarukan sepanjang kurang lebih 1000 km) di Bandung  –sekarang jalan Asia Afrika, titik nol kota itu pada 25 September 1810. Makassar, tetangga Palu menetapkan peristiwa historis yang jika ditilik, kurang lebih sama dengan Palu, ketika Gowa menerima kali pertama Islam masuk ke sana pada 9 Nopember 1607, beda empat tahun lebih lama ketika Datokarama tiba di Palu pada 1603.   

Kota-kota di Indonesia dibentuk oleh kolonisasi dan sejarah pergolakan politik nasional. Ketika Pelabuhan Donggala masih sibuk, dunia luar lebih mengenalnya sebagai urban, dan Palu adalah suburbannya. Pelabuhan, pasar tradisional, adalah penanda penting terbentuknya lokus yang dinamai kota, sejak dulu kala. Begitu pula halnya secara administrasi. Ketika kekuasaan kolonial berpusat di Batavia (Jakarta), yang kemudian membentuk pola ajeg hingga sekarang ketika Jakarta menjadi ibukota negara, dan daerah-daerah diluar itu didefinisikan dari sana oleh dua hal: secara vertikal oleh pemerintahan kolonial (negara) dan pasar (interaksi masyakarat) yang horisontal. 

Dinamika modernisasi kota selanjutnya ditentukan oleh interaksi antara negara dan pasar.  Sejarah juga menunjukkan demikian. Sebuah fiksi bagus yang menggambarkan terbentuknya sebuah kota adalah film Gangs of New York (Martin Scorsese, 2002) megapolitan yang terbentuk oleh pertentangan kelas dan ras.
    
Negosiasi itu sekarang mengarah ke pilihan-pilihan, kota akan berorientasi pada kepentingan publik atau privat. Kita suka luput, di kota-kota dari negeri yang kita anggap sangat kapitalis, misalnya, yang diktum privat adalah segalanya dan peran negara perlahan lenyap, ruang kota malah berorientasi publik, ruang publik ramah bagi siapa saja termasuk buat kelompok rentan: orang tua, anak-anak, dan yang cacat fisik (disable). Mulai dari taman, pedestrian, angkutan massal, hingga toilet. 

Mungkin masih dini bicarakan soal-soal di atas dalam hal Palu. Beberapa yang dirasa mendesak adalah mental berkota misalnya untuk hal mudah tapi susah: memperlakukan sampah, misalnya, untuk menyebut salah satu dari sekian persoalan berkota.

Akhirnya selamat hari ulang tahun Palu, yang selalu saya tulis di depannya kata “kota” dalam huruf K besar (kapital) sebagai penegas, tapi kali ini tidak. Sebelumnya kata kota itu administratif dan lahir di alam bawah sadar saya sebagai warga yang mencintai kotanya. Sekarang saya tak merasa perlu menuliskannya karena saya merasa kita sudah jadi kota dalam pengertian yang sesungguhnya, bukan? 

PEWARTA


HAMPIR setiap orang punya pengalaman atas tempat, kejadian, atau hal-hal baru dalam hidupnya, yang berkesan. Hal mana yang kemudian membentuk pengalaman hidup pada hampir setiap orang itu, seberapa pun kecil dampaknya: keunikan. Saya ingin menyebut pengalaman itu sebagai perjalanan. 

Apa yang menarik dari sebuah perjalanan? Bagi saya adalah catatan atasnya. Maksud saya, siapapun Anda, yang tak harus berstatus sosial sebagai penulis atau wartawan cetak, misalnya, untuk memulai kebiasaan menuliskan catatan perjalanan.

Saya ingin meluaskan pemaknaan kata Perjalanan, yang tak sekadar jalan-jalan, tapi juga pengalaman menemukan sesuatu hal yang baru dan layak dikabarkan, dibagikan pada orang-orang sebagai informasi.

Apa pentingnya sebuah perjalanan yang dituliskan, bagi diri yang mengalami perjalanan dan bagi orang lain yang membaca, ketika catatan dipublikasikan? Yang pertama adalah aktualisasi. Menulis adalah bagian dari kecakapan berbahasa selain membaca, mendengar, berbicara. Di ranah psikologi, kemampuan menulis malah diyakini mampu menjadi media katarsis yang menyembuhkan, membahagiakan.

Yang kedua, adalah informasi.

Dulu informasi dipahami hanya lahir dari institusi pers. Sebut saja media massa baik cetak maupun elektronik yang wujudnya berupa surat kabar harian, radio, televisi, internet. Media-media massa ini dikelola secara profesional untuk memproduksi informasi. Pun saat ini, pemahaman itu belum terganti. Tapi, ada yang berubah dari kebiasaan itu sekarang. Teknologi informasi hari ini mempersilakan, menjadikan siapapun Anda sebagai pewarta. Bedanya pada Anda yang misalnya bukan wartawan hanyalah kartu penanda, akses bagi setiap peristiwa. Itu saja. Samanya adalah keduanya bisa memproduksi informasi dan membagi informasi itu pada siapa saja.

Yang membedakannya kemudian adalah keunikan yang sifatnya personal, keintiman berbahasa yang tak dimiliki media massa resmi. Sekalipun cara personal dengan penggunaan kata aku, saya itu saat ini sudah diadopsi juga dalam karya jurnalistik. Pengalaman yang sudah saya singgung di atas menunjukkan bahwa pada setiap catatan perjalanan hidup yang dituliskan itu akan berdampak pada orang lain yang mengaksesnya, membacanya. Terbentuk sebuah siklus informasi yang akan membuat pengalaman jadi kaya, penuh warna, dan bertendensi memperbaiki. Kita akan tahu bagaimana cara yang ekonomis menuju ke tempat x, apa yang menarik di tempat y, dan apa-apa yang pernah terjadi di tempat z yang akan membuat kita jadi antisipatif. Semoga Anda mengikuti kisah kasus hukum Prita yang menulis catatan perjalanannya menghadapi layanan rumah sakit dan berujung di pengadilan. Betapa catatan punya dampak, bukan?

Saya tak menyatakan bahwa pesan berantai (broadcast) adalah catatan, sekalipun tak semuanya salah karena ada informasi berantai penting yang harus kita teruskan. Fenomena yang menurut saya, mengutip judul lagu band lawas The Police, sebagai too much information. Kritik bagi derasnya arus informasi dan kita tak punya penyaring yang baik untuk memilah-milih informasi yang kita butuhkan.

Media-media massa mewadahi catatan unik pembacanya dalam surat pembaca atau kolom-kolom khusus jurnalisme warga (citizen journalism). Itu karena media massa tentu paham bahwa ada banyak keterbatasan pada mereka, dan saya ingin menambahkan perihal keunikan pada pengalaman yang saya maksudkan di atas.

Produksi informasi cetak hari ini juga dapat dilakukan tanpa birokrasi, selagi informasi yang dipublikasikan tidak mengandung unsur SARA. Selebaran yang dibagi saat Jumatan, contohnya. Atau cetak stensilan propaganda komunitas, adalah bentuk dari informasi yang tercatat itu. Lebih dari itu, media sosial internet memberi ruang pada siapapun yang mau mendokumentasikan catatan perjalanan hidupnya sejak teks, gambar, hingga audiovisual. Gratis!

Saya tak tahu, apakah ritual mengarang cerita yang pernah saya alami saat masih kecil di bangku sekolah dasar masih dilakukan saat sekarang. Kebiasaan itu harus selalu ditumbuhkan bersama kebiasaan lain dalam apa yang saya sebut di atas sebagai kecakapan berbahasa, utamanya membaca. Tentang teknis menulis tentu saja adalah soal kebiasaan. Hal terpenting dari sana adalah kemauan, kejujuran. Soal membuka tulisan dengan, “pada suatu hari…” bukanlah halangan untuk tak membiasakan diri menulis catatan. A la bisa karena biasa.

Apa yang tak dipunyai televisi dan dimiliki buku atau bentuk bacaan lain? Imajinasi. Kata-kata yang jadi kalimat dan membentuk catatan akan menggerakkan apa yang ada di pikiran, yang itu tak dimungkinkan oleh televisi yang menyajikan bentuk pada mata telanjang kita dan kita tak butuh imajinasi. Kita menginterpretasikan ruang, waktu, dan kejadian yang dituliskan. Dan tahukah Anda apa yang nyaris hilang di bangsa ini ketika membicarakan suatu hal dari sekian unsur dalam kecakapan berbahasa ini –menulis? Saya kira Anda akan bersepakat dengan saya, imajinasi.

Ini seperti geram kita pada politisi dan pejabat publik sejak level nasional hingga lokal yang sering melakukan perjalanan dengan uang publik dan tak ada catatan perjalanan yang harusnya mereka tulisakan sebagai konsumsi publik itu, selain hanya bernarsis ria jadi turis mengabadikan diri di tempat-tempat terkenal. Ada yang tak mempublikasikan karena khawatir kritikan, tak jarang yang mempublikasikannya tanpa catatan di media-media sosial internet. Catatan resmi perjalanan dan apa yang dihasilkan, didapatkan juga banyak yang tak dipublikasikan.

Baiklah, kita sudah terlalu banyak bicara, kadang tidak begitu suka mendengar karena cenderung egois ingin didengar, dan hanya punya sedikit waktu untuk meluangkan diri membaca karena lebih suka menonton televisi. Sekarang, maukah kita menulis catatan?

nikchng.wordpress.com

SAYA DAN GURU TUA

SIS Aldjufrie (Guru Tua)


SEMUA hal yang saya sukai ada pada sebagian besar dirinya: melakukan perjalanan, sepak bola, dan syair. Beruntunglah murid-muridnya, mereka yang pernah dekat secara fisik dengannya, berinteraksi secara langsung dengan dia, dengan Guru Tua.

Seketika gambaran saya tentangnya begitu luas. Keluasan itu seolah merangkum apa-apa yang saya rasakan sekarang, generasi yang tak pernah bersentuhan langsung dengannya, tapi merasakan detak dan jejak yang begitu kuat dan banyak.

Suatu kali, ketika saya masih kecil dan tak punya apapun tendensi, seringkali bertanya dalam hati, siapa lelaki tua berkacamata, bersorban putih, dengan tatapan tajam itu, bertemu selalu secara tak sengaja di pigura-pigura kaca ruang tamu rumah-rumah yang kebetulan saya kunjungi, atau stiker di interior mobil, hingga gantungan kunci. Gagah sekali. Penanda-penanda itu menjadi semacam identitas yang sangat lokal Palu, atau Sulawesi Tengah, sebagai sebuah lokus, tempat. Saya pikirnya saat itu, Guru Tua adalah bapak atau kakek dari semua orang yang rumahnya saya kunjungi itu.

Dan memang, karenanya, ada yang membuat sesuatu menjadi “pusat” di kota ini. Alkhairaat.

Keluasan itu bagi saya memantik kepekaan historis, membayangkan ketika Indonesia masih dijajah oleh Belanda, dan lalu Jepang. Dan di tengah masa sulit itu ada seorang yang memikirkan sebentuk perlawanan melalui pendidikan. Ada semacam kesamaan psikologis yang terbentuk dari kolonialisme. Di darahnya mengalir bangsa ibunya yang nusantara, dan darah Yaman bapaknya, bangsa yang dijajah Britania Raya.

Komitmen kebangsaannya nyata dari syair yang dia tulis dan dibacakannya pada 17 Desember 1945, beberapa bulan setelah Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia, dan sebagai penanda dibukanya kembali secara terbuka sekolah Alkhairaat yang sebelumnya bergerak “bawah tanah” karena pendudukan Jepang. Simak syair berikut. “Berkibarlah Sang Saka Merah Putih dengan megahmu di angkasa, bumimu Indonesia, untuk selama-lamanya” (Depdikbud, 1987).

Ini menjadi serupa teologi pembebasan di negara-negara latin benua Amerika, ketika para pendakwah melalui pendidikan agama memberi pencerahan tentang makna kehadiran manusia di dunia pada kaum papa dan tertindas: petani, buruh, pengangguran, bersimbiosis dengan ideologi kiri yang seringkali dipersepsi dan direduksi sekadar sebagai anti Tuhan dan agama. Dan dengan pendekatan itu masyarakat mengorganisir diri dan komunitas untuk keluar dari segala bentuk penjajahan.

Sebagai kata, Alkhairaat, masterpiece itu, secara etimologi adalah bentuk jamak dari kata Chair yang artinya kebajikan. Kata ini bagi saya sakral (akhirat) sekaligus profan (dunia) yang mengindikasikan relasi-relasi antar manusia (Hablum minnnas) dan antara manusia dan Sang Pencipta (Hablum minallah). Dalam hal dunia, realitas kebajikan itu diterjemahkan dalam spirit pendidikan.

Tapi tak hanya pendidikan. Humanisme sebagai laku sosial pun menjadi bagian yang dipraktikannya, dihargainya, sebagai manifestasi kemanusiaan yang profan itu, yang dalam kenyataannya penuh keberagaman. Di tengah pluralitasIndonesia yang mencekam seperti sekarang ini, sulit bagi saya membayangkan seorang tokoh pendidik muslim mengajak guru yang beragama Kristen mengajar di sekolah yang didirikan. Bapak PK Entoh (Alm), tokoh pendidik yang beragama Kristen, pernah diajaknya mengajar di sekolah Alkhairaat. Lakum dinukum wa liadin, bagiku agamaku, bagimu agamamu. Kebutuhan bersamanya dalam konteks itu adalah ilmu, dan bukan agama sesesorang. Pun begitu halnya dengan interaksinya dengan kebudayaan lokal (khususnya Kaili).
  
Dalam banyak keterbatasan, spirit itu hadir dalam perjalanannya bersama murid-muridnya membuka sekolah-sekolah –awalnya di Kota Palu lalu di sebagian jazirah nusantara yang sekarang dinamakan kawasan timur Indonesia. Suatu waktu, perjalanannya berhari-hari menyisir pantai timur Sulawesi Tengah dengan kendaraan gerobak sapi (Jamrin Abubakar, 2012).

Hari ini sudah tak bisa lagi dihitung dengan jari spirit itu, sejak taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas dan kejuruan, dan lalu sebuah perguruan tinggi dan juga alumni-alumni di semua jenjang pendidikan itu.

Zaman berubah bersama tantangannya. Di tengah perubahan zaman itu, ada yang ajeg sebagai landasan, sebagai pijak, seperti yang telah diwariskannya kepada kita semua, terlebih dan khususnya bagi abnaul khairaat. Tapi ada juga yang beradaptasi bersama zaman itu sendiri, yang bergerak maju dan berdinamisasi.

Yang paling mengkhawatirkan oleh tantangan perubahan zaman itu sekarang adalah toleransi antar umat beragama, antar kebudayaan, antar lokus, wilayah. Tidak saja secara nasional, tapi juga potensi laten di sekitar kita. Namun dalam perubahan itu, prinsip-prinsip dasar kemanusiaan Guru Tua menjadi sesuatu yang menurut saya ajeg, sebagai pijak yang hari ini kontekstual, senantiasa menjadi nilai bersama (common sense) yang harapannya sangat lokal, sangat khas Kota Palu dan bersimbiosis dengan semboyan itu malintinuvu, nosarara nosabatutu.    

Di perpustakaan yang saya kelola ada poster besar dalam pigura kaca wajah penyair Rendra dan sepenggal sajaknya. Saya berharap, disaat saya melihat poster itu, semangat menulis saya terbakar. Harapan itu sama seperti ketika saya melihat poster Bung Karno yang masih tetap dipajang oleh para pengagumnya di dinding-dinding rumah, juga mungkin seperti kaos atau stiker bergambar siluet Che Guevara yang dipakai banyak anak-anak muda. Ada yang menyatu bersama spirit orang yang mereka kagumi itu, tapi tak jarang juga yang tidak.      

SIGI OH SIGI


namamu Lindu
getar itu
rapuh batu
kata-kata jadi kayu
jadi puisi paling sendu
hari itu

MINGGU pagi (19/08). Lantunan suara takbir berkumandang. Matahari terbit perlahan dengan gagah. Orang-orang di Kota Palu berduyun-duyun di jalan-jalan menuju mesjid dan lapangan hendak menunaikan ibadah shalat ied, merayakan hari lebaran. Sekira 50 km dari situ, di Kulawi dan sekitarnya, beberapa desa terisolir, setelah gempa besar yang terjadi saat sore jelang buka puasa terakhir (Sabtu, 18/08).

Sebuah rumah di Desa Tuva, Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Sigi

Berita saat dini hari pasca gempa dari salah satu saluran tv, ada korban jiwa, rumah-rumah rusak, banyak titik di ruas jalan poros yang menghubungkan Kota Palu dan Kecamatan Kulawi mengalami longsor parah yang membuat akses jalan terputus.

Beberapa saat setelah gempa, sempat terjadi silang pendapat dengan beberapa kawan tentang pusat gempa. Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), sebagai instansi yang berwenang memberikan informasi perihal gempa merilis laporannya. Pusat gempa, oleh BMKG terjadi di arah baratdaya, 27 km dari Kabupaten Parigi Moutong, dengan skala richter 6,2, dikedalaman 10 km. Yang itu berbeda dengan laporan United States Geological Survey (USGS), BMKG milik Amerika Serikat yang merilis pusat gempa terjadi di Kulawi, dekat Danau Lindu (di peta Google), dengan skala richter 6,3 dan dikedalaman 19,9 km.

Perbedaan data sebagai laporan itu berimplikasi pada perhatian publik, kerusakan berpusat di sekitar wilayah administrasi Kabupaten Parigi Moutong. Media-media menyebut Gempa Sulawesi Tengah. Kerabat di luar kota yang mengirim pesan atau menelepon untuk bermaaf-maafan, keterusan untuk melakukan klarifikasi berita-berita media, memastikan tak terjadi apa-apa sebelum lebaran. Yang di Kota Palu saja getarannya hebat, apalagi yang berada di pusat gempa.   

Besar kemungkinan Lembah Palu yang terkenal memiliki patahan (sesar) bernama Palu Koro yang membentang dari arah utara di laut Selat Makassar dan membelah Kota Palu hingga ke arah selatan itu, adalah penyebabnya. Sebagai gejala alam, sesar itu bergerak tidak biasa juga dangkal hari itu, dan menimbulkan apa yang di sebut orang-orang sebagai tanah goyang.

Sesar aktif itu senantiasa bergerak. Suatu kali saya pernah ke kantor BMKG di Padanjese, Kota Palu. Di kantor yang berfungsi sebagai pos pemantau gempa itu saya sempat berbincang dengan salah seorang petugas yang bekerja mengamati pergerakannya. Hampir setiap hari sesar itu bergerak namun dalam skala yang kecil dan dalam. Terasa sebagai tanah goyang atau gempa, apalagi hingga menimbulkan kerusakan, korban baik jiwa maupun bangunan, jika skala gerakannya besar dan dangkal.    

Di sepanjang perjalanan menyusuri lokasi yang semakin mendekat ke pusat gempa, sejak Kecamatan Gumbasa, situasi mulai terlihat berubah pada beberapa bangunan. Sebuah rumah rusak berat hingga rata dengan tanah di Desa Tuva, Kecamatan Gumbasa. Rumah itu dapat segera terlihat karena berada di jalan poros. Beberapa warga di sana mengatakan, rumah-rumah lain yang letaknya agak ke dalam, yang tidak berada di sisi-sisi jalan poros pun banyak yang rusak. Sehingga, pendataan harus cermat. Desa Tuva adalah desa terakhir, perbatasan antara kecamatan Gumbasa dan Kecamatan Kulawi.

Setelah Tuva, masuk ke Kecamatan Kulawi desa pertama yang akan ditemui adalah Desa Salua, desa terakhir yang dapat diakses saat itu. Titik-titik longsoran terlihat semakin sering ditemui. 3 dusun di di desa itu bangunan-bangunannya juga banyak yang rusak. Tenda-tenda darurat pengungsian didirikan. Tak sedikit warga mengungsi ke desa tetangga yang dirasakan lebih aman.

Pengungsian itu dipantik oleh kekhawatiran warga, Sungai Saluki yang bermuara di Desa Salua, ke Daerah Aliran Sungai (DAS) Miu itu debit airnya berkurang drastis –dipercaya karena tertutup longsoran pasca gempa, yang itu mengindikasikan ancaman lain: banjir bandang. Kerusakan parah terjadi di sekitar Lindu yang pasca gempa baru dapat diakses dengan menggunakan helikopter.

Belum juga setahun lewat (3 Desember 2011) dan masih lekat diingatan bagaimana banjir bandang menyapu Desa Bolapapu di Kulawi yang menimbulakn korban jiwa dan bangunan.

Ada kebutuhan mendesak bagi Sigi sebagai kabupaten paling bungsu di Sulawesi Tengah ini untuk memikirkan sacara serius dan sungguh-sungguh upaya-upaya mitigasi bencana dalam siklus pra bencana lalu tanggap darurat ketika bencana terjadi, dan pasca bencana ketika pemulihan (recovery).

Upaya-upaya itu harus didukung oleh semua pihak, baik oleh masyarakat Sigi, saudara-saudara tetangga, dan khususnya Propinsi Sulawesi Tengah, bahkan dunia internasional. Kenapa dunia? Tak lain karena ada taman nasional sebagai satu dari tinggal sedikit paru-paru dunia yang tertinggal ada di sana. Apapula hubungannya dengan tetangga seperti Poso, Donggala, Parigi Moutong, dan Kota Palu sebagai ibukota? Itu karena ada keterkaitan dan keterikatan geografis (alam) dan sosial diantara wilayah-wilayah yang sering disingkat Palapas itu.

Bagi masyarakat Sigi bentuk dukungan bagi upaya mitigasi itu tentu saja menjadi sesuatu yang terberi. Sayangnya, masih dalam duka bencana, sekaligus khidmat lebaran, beberapa hari setelah tanah goyang, gempa yang lain datang menghadang. Bencana sosial karena tawuran antar warga di Kecamatan Marawola juga meminta korban jiwa dan harta benda. Tidak saja warga di sana, tapi juga wartawan yang sedang meliput kejadian. Sungguh menyesakkan.

namamu Sigi
sesuatu padamu terberi
danau di Kulawi
dan bentang alam yang serupa nyanyi sunyi

aku mengeja pelan sepi, mareso masagena
mari bekerja keras dan bersatu
dalam ruang
dalam waktu   

kau menatap aku sambil menyeka peluh di dahi  

BELANJA

aku belanja, maka aku ada ~ descartoon :)

SEORANG kawan mengatakan, ada dua musim selain panas dan hujan. Sebagai orang tua, dia harus mempersiapkan dana cadangan untuk menghadapi dua musim itu yang terdengar mirip di telinga, musim liburan, dan musim lebaran. Belanja, menjadi kata kunci di dua musim itu, katanya.

Waktu liburan panjang sekolah, dana cadangan keluarga yang disiapkan adalah ketika keluarga maksimal bisa jalan-jalan ke luar kota, atau minimal rekreasi mingguan di dalam kota. Tahun ajaran baru sekolah menjadi identik juga dengan serba kebaruan: pakaian, sepatu, topi, dasi, sampai kaos kaki. Belum buku tulis atau buku pelajaran. Apalagi jika masuk ke jenjang baru pendidikan, sejak taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi.

Bagaimana dengan lebaran? Sebagai hari perayaan umat Islam setelah sebulan berpuasa di bulan Ramadan, lebaran, sebagai puncak dari Ramadan menjadi identik dengan pengeluaran. Saya ingin mendudukkan fenomena itu sebagai penyambutan, gejala sosial yang menandai Ramadan.

Penyambutan itu bagi saya selalu berasal dari pulangnya ingatan ketika Ramadan datang. Ingatan-ingatan masa kecil saya dan Ramadan adalah dua hal yang menyatu dalam kedirian, dan ingin saya sebut sebagai kerinduan.

Malam semarak oleh orang-orang di jalan yang ke mesjid untuk shalat tarawih, pulang dari tarawih lebih semarak lagi di toko-toko pakaian dan warung makan. Dini hari yang sibuk dengan bebunyian alat masak di dapur dan meja makan, ketika sekeluarga kumpul dan saling berinteraksi dalam kehangatan. Lalu sebagian orang-orang menikmati udara subuh yang bersih dari polusi kendaraan ketika hari sudah terang dengan berjalan kaki sepulang shalat subuh berjamaah.

Sore hari menjadi asyik karena jalan-jalan sambil belanja kudapan. Untuk soal ini kita bahkan menjadi akrab dengan Ngabuburit, idiom kebudayaan Ramadan dari negeri Parahyangan. Saat berbuka puasa, meja makan terasa tak lengkap tanpa beragam camilan. Jelang Ramadan, rumah didandan, minimal di cat baru, gordyn diganti, maksimal ganti sofa. Saya tak tahu apakah belanja pakaian menjadi semacam konvensi sosial terkait lebaran, karena masa kecil saya mengajarkan, malam lebaran adalah malam paling khusyuk buat belanja baju dan celana panjang.          

Yang hidup merantau di negeri seberang karena menuntut ilmu atau pekerjaan, lebaran dimaknai sebagai katarsis tahunan dalam laku mudik, sebagai penegasan makna kata “pulang” dan kerinduan pada kampung halaman. Tak jarang, bahkan hadir dalam wujud lain yang bergerak di luar konteks Ramadan sebagai kesuksesan.

Lokalitas menjadikan lebaran dan Ramadan, juga hari perayaan agama lainnya memang tak sekadar laku spiritual. Keduanya bersimbiosis dengan kebudayaan. Contoh bagi itu adalah petasan, atau ketika jelang natal dan tahun baru, penjual bambu untuk kuliner nasi bulu terlihat ramai di beberapa ruas jalan khusus yang dari dulu begitu dan karenanya konvensi, tak disepakati secara tertulis.

Khusus Ramadan dan lebaran kali ini, kerinduan saya dari laku penyambutan itu masih terobati. Bedanya, kalau sekarang anak-anak lebih instan oleh petasan kemasan, dulu saya masih merasakan buatan tangan: bambu yang dibuat jadi meriam, karbit yang diledakkan, atau bunyi letusan busi bekas yang dilempar ke udara. Isinya serbuk inti korek api, yang agar jatuhnya lurus vertical karena gravitasi, pantat busi dikasih rumbai-rumbai dari tali rafia. Sungguh kenangan!  

Akhirnya, saya memikirkan makna kemenangan saat lebaran setelah sebulan penuh berpuasa di bulan Ramadan. Zakat sudah barang tentu kewajiban, sebagai bentuk kongkrit dari refleksi kemanusiaan, yang berpunya pada yang dhuafa. Kemenangan itu juga ditandai dengan sepanjang hari selama Ramadan orang-orang beribadah dan menaklukkan naluri dasar dirinya untuk tidak makan, minum, berhubungan badan, dan melakukan hal-hal yang tak perlu yang mengurangi nilai pahala puasa. Intinya menundukkan nafsu, termasuk nafsu belanja? Wallahu’alam!

GEOPOLITIK


SAYA pernah jadi dosen luar biasa selama satu semester untuk mata kuliah Hubungan Internasional di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Tadulako. Dalam sebuah kesempatan berdiskusi di ruangan kuliah dengan mahasiswa semester akhir, saya menunjuk secara acak, meminta pada salah seorang mahasiswa, menjelaskan tentang siapa dia. Terserah akan mulai dari mana penjelasan soal kediriannya itu. Permintaan saya itu terkait dengan tema kuliah kami saat itu, geopolitik. Dan mahasiswa itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

Kemudian saya meminta kerelaan mahasiswa yang lain untuk memulai diskusi kami itu. Tak ada. Saat itu yang ada di pikiran saya kemudian adalah pertanyaan-pertanyaan, apakah mahasiswa segan –untuktidak mengatakan takut menyampaikan pendapat, atau mahasiswa tak paham geopolitik itu apa. Saat itu saya hanya ingin tahu sejauhmana orang memahami keber-ada-annya: kesehariannya, lingkungannya, yang menurut saya penting sebagai upaya memahami hal yang ada di luar dirinya. Pendeknya, geopolitik secara sederhana –sekalipun tak sesederhana yang saya maksud, adalah kemampuan memahami keberadaan diri dan letak dan yang melingkupi diri dan letak itu sejak rukun tetangga sebagai lingkup sosial terkecil domisili, hingga dunia yang hari ini oleh teknologi menjadi sudah tak lagi berbatas.

Pendeknya lagi, diskusi itu hanya ingin mengarah pada hal-hal sederhana, orang tahu nama jalan/gang rumahnya, nomor rumahnya, siapa tetangganya, nomor rukun tetangganya, rukun warganya, bagus kalau orang tahu siapa ketua rt dan rw-nya, namanya, termasuk nama kelurahannya atau desa, di mana kantor lurah atau desanya itu, kecamatannya, kantor a, b, c, untuk urus a, b, c, dan seterusnya, kantor kepala daerahnya dan kantor dprd sebagai wakil-wakil mereka. Semua hal-hal yang sederhana, bukan?

Secara serius geopolitik seringkali diidentikkan menjadi apa yang dikenal sebagai wawasan nusantara. Tulisan saya tak hendak menjelaskan panjang lebar dan dalam perihal tema yang di masa orde baru berkuasa itu malah digunakan untuk menyeragamkan keberagaman, padahal secara konseptual, geopolitik Indonesia yang jadi wawasan nusantara itu mengakui keberagaman kebudayaan dan keyakinan warganya, juga keberagaman dimensi alamnya.

Itu karena pemahaman geopolitik itu belum lagi masuk ke hal-hal yang lebih khusus, misalnya tentang batas dan potensi kewilayahan sejak rumah, kantor, kelurahan atau desa, kota atau kabupaten, propinsi, negara, pulau, kawasan, benua, dunia, dan bla bla bla… 

Pertanyaannya kemudian, misalnya buat seorang ibu rumah tangga, atau tukang ojek, atau penjual ikan di pasar, apa gunanya geopolitik? Sepintas lalu rasanya memang tak penting. Orang suka meyakini peribahasa bijak itu, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Menurut saya peribahasa yang anonim itu tak sekadar praksis orang bisa hidup di mana saja. Kemampuan beradaptasi secara sosial adalah pemahaman geopolitik yang secara tak sadar ada di masing-masing orang. Agar bisa diterima dan mengaktualisasikan diri di sebuah lingkungan, hal pertama yang menjadi serupa syarat mutlak adalah kamu harus mengenal dengan baik lingkungan dan termasuk tetangga-tetangga di empat penjuru arah mata angin darimu, bukan? Soal kamu selanjutnya bisa akrab dan berinteraksi, saya pikir itu soal pilihan.

ada di mana kamu di peta ini, sayang? dan tahukah bahwa kamu adalah pusat? :)

Itulah mengapa situasi yang digambarkan di atas akan sedikit berbeda dengan biasanya kearifan lokal milik masyarakat adat, yang jauh dari pusat kekuasan ekonomi dan politik di kota. Pengetahuan geopolitik masyarakat adat yang juga hadir sebagai bawaan itu biasanya tercermin dari pemahaman mereka atas sejarah tempat mereka bermukim dan bagaimana mereka menyikapinya dengan perilaku sehari-hari.

Mereka tak paham geopolitik sebagai konsep akademik yang serius itu, tapi mereka paham dan serius soal bagaimana berinteraksi dengan saudara se ngata (kampung), tetangga, bagaimana memperlakukan tamu yang datang, memperlakukan tanah, sungai, hewan, tumbuhan, sebagai sebuah sistem yang saling berkait dan menjadi bagian dari keseharian. Sekalipun demikian, sayangnya nilai-nilai lokal di beberapa tempat itu juga banyak yang digerus oleh perubahan zaman, dan di tengah perubahan itu orang-orang terlihat gagap, termasuk pada orang-orang kota, pada urban.

Kesadaran atas pemahaman geopolitik adalah bagian dari literasi juga, kemampuan “membaca” kapasitas yang ada pada diri dan di sekitar keseharian diri itu, potensinya maupun kerentanannya.

Sebagai hewan politik (zoon politicon) membuat seorang tukang ojek yang cerdas secara geopolitik tentu saja paham, dimana dia harus mangkal dan membentuk konvensi bersama kolega sesama ojek untuk mendistribusikan rezeki pengguna jasa mereka, membentuk sebuah harmoni sosial baru yang seringkali tidak tertulis. Ibu rumah tangga paham, misalnya, secara letak, rumah tempat dia tinggal berada di kerentanan-kerentanan (bencana), jika terjadi sesuatu hal karena kerentanan-kerentanan itu, antisipasi sudah dipikirkan dan didiskusikannya dengan anggota keluarganya, sebagai upaya mengurangi risiko. Yang jual ikan paham jika urus apa-apa misalnya untuk urus pinjaman bank untuk usahanya karena harus ada legalisasi kependudukan, tahu harus kemana, misalnya ke kelurahan, syarat-syarat yang biasanya ditanyakan pegawai kelurahan dia punya dan siapkan: surat pengantar dari ketua rt, pajak bumi bangunan, dan seterusnya. Tiga dari mereka itu merasa punya hak ketika ada forum warga dilibatkan, memberikan pendapat, masukan, mengoreksi.       

Kalau sebuah kota kita posisikan sebagai diri, geopolitik akan membuat sebuah kota dituntut untuk memahami kapasitasnya, kemampuannya, kelemahannya, apa yang dia punya dan yang tidak dipunyai kota, agar dengan begitu kota menjadi bisa memahami kediriannya untuk tetap berkembang di tengah perubahan dan kenyataan bahwa ada diri-diri lain, kota-kota tetangga yang juga berbenah di tengah perubahan yang terjadi. Orang-orang  yang tinggal di kota itu adalah kesatuan geopolitik. Anggap saja ini duga-duga. Semakin tinggi tingkat kesadaran kritis geopolitik warga sebuah kota, akan berdampak pada semakin baik pula kota itu berkembang. Apa maksud kata “baik” itu? bagi saya, kota-kota akan menjadi lebih ramah dan humanis, dan bukan sebaliknya, sangar dan kasar, terlebih pada yang minoritas. 

Namun seiring itu, saya juga suka bertanya-tanya, ketika wilayah dengan batas-batas tegas, kota-kota memahami geopolitiknya dan  karenanya berkompetisi dalam biasanya rumusan visi sebagai yang terdepan, termaju dan ter ter lainnya, wilayah tertentu, kota-kota, kemudian menjadi tidak bersahabat dalam kompetisi. Ukuran-ukuran “paling” bla bla bla sebagai visi itu tak lagi berada dalam tujuan-tujuan bersama di luar dirinya, pada wilayah lain dalam konteks yang lebih besar (bangsa), dan dalam dirinya, pada warga Yang Lain (the others).

Kesadaran geopolitik bagi saya akan membuat orang menjadi lebih peduli pada tujuan-tujuan, kesepakatan bersama, kontrak sosial yang seringkali konvensional, tidak tertulis, kenapa harus berkomunitas, bermasyarakat, kenapa harus bernegara-bangsa, bahkan apa pentingnya sadar menjadi warga dunia, dengan misalnya, mengerti ada hubungan empati kemanusiaan antara seseorang yang tinggal di sebuah gang sempit di Kota Palu dengan seorang Rohingya yang sedang dalam kecemasan konflik sosial di Myanmar. Dan empati itu bisa berdampak. Geopolitik mempertanyakan semua soal-soal di atas dengan kritis.

Saya ingin menutup tulisan ini dengan mengajukan soal perihal geopolitik dengan apa yang terjadi dan dekat dengan saya sekarang. Hari ini, Kota Palu sudah pecah menjadi 8 kecamatan, dari yang sebelumnya 4. Apa pesan geopolitik dari perubahan itu? ketika luas wilayah tak bertambah, membuat jumlah kelurahan di masing-masing kecamatan menjadi lebih sedikit?

Sedikit ilustrasi dari sana adalah, beberapa dari kita optimis bahwa pemekaran wilayah itu adalah kecakapan geopolitik, pemerintah menjadi lebih fokus mengorganisir urusan kependudukan dan sosial yang semakin dinamis. Namun bersamaan dengan optimisme itu kecemasan laten beriring. Hanya karena beda jembatan, batas kelurahan, sebuah harmoni sosial dengan mudah berubah jadi disharmoni. Saya tak ingin menjawab pertanyaan ini, karena kekahwatiran jawaban saya jadi penyeragaman. Saya mengembalikan pada khalayak pembaca yang budiman dimana posisi Saudara-Saudari sekalian dalam perubahan itu. Harapan saya hanya agar kita tidak menggeleng-gelengkan kepala saja. 

UNGKE DAN UMA


BERAS sudah, gula pernah. Sekarang ubi kayu. Indonesia mengimpor dalam jumlah ribuan ton singkong dari Cina dan Vietnam (kompas.com, 10/07/12). Kekagetan yang tak perlu sebenarnya, dan tak harus jadi bahan tulisan, apalagi dibicarakan. Impor yang artinya membeli komoditi dari luar negeri itu tentu tak sama artinya dengan ekspor yang sebaliknya, komoditi dalam negeri dibeli oleh luar negeri.

Saya ingin menyebut yang pertama itu Ungke atau uang keluar, dan yang kedua Uma atau uang masuk. Singkatan (akronim) Uma dan Ungke itu di sebagian lingkup pergaulan di Kota Palu sudah mulai digunakan sebagai ungkapan.

Sayangnya, dalam kasus Indonesia, Uma sebagai komoditi ekspor yang paling sering dibicarakan adalah manusia atau tenaga kerja, selain minyak dan gas (migas). Paling sering kita mendengar atau membaca di berita-berita media massa, ketika ada kasus terkait tenaga kerja di luar negeri, kalimat penegas berita selalau menyertai, sebagai penyumbang devisa terbesar negara.

Kekagetan-kekagetan itu  seolah mengajarkan kita secara perlahan-lahan pada perihal bahwa dunia hari ini sudah berubah. Kamu boleh tahu ada lagu legendaris Koes Plus yang judulnya Kolam Susu itu, yang orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Hari ini lagu itu tidak kontekstual. Kamu juga harus dengar lagu-lagu baru, genre-genre baru musik hari ini yang lirik-liriknya lebih penting merayu dan mendayu-dayu, atau yang musiknya bisa bikin kamu kerasukan (trance) dan dari situasi itu kamu beranggapan bahwa bangsa ini memang tak punya persoalan.

Apalagi filsafat macam gemah ripah loh jinawi itu. Masih relevankah hari ini spirit Jawa itu bagi petani-petani di tanah tempat spirit itu lahir? ketika petani-petani tembakau, garam, menghadapi kenyataan, khawatir suatu saat mereka tak lagi menanam tembakau karena undang-undang kesehatan, ladang-ladang garam berubah fungsi jadi pemukiman karena negara lebih memilih Ungke dari pada Uma. Masih lekat diingatan saya, sebuah kota, Toli-toli yang dikelilingi Cengkeh itu. Ketika jaya komoditi itu bikin petani-petaninya di sebagian Sulawesi Tengah dan Utara bisa menikmati liburan, jalan-jalan nikmati hasil panen. Dan nyatanya seakarang lebih mudah bertemu di pinggir jalan Apel, jeruk, dan buah-buahan lainnya yang impor, dari pada yang lokal.

Dalih lebih memilih Ungke dari pada Uma biasanya soal kebutuhan dan bukan karena untung rugi. Tapi benarkah hanya soal itu? ini dugaan saya, penjajahan hari ini tak harus dengan senjata, sekalipun pada saat-saat tertentu senjata dibutuhkan sebagai alat paksa. Ada yang salah dalam hal kebijakan. Dan kebijakan lebih sering diputuskan karena campur tangan yang tak kelihatan (invisible hand). Ambil contoh tentang kebijakan terhadap tembakau yang masuk lewat undang-undang kesehatan. Atau pada komoditi rotan. Kementerian perindustrian dan perdagangan melalui peraturannya nomor 35 tahun 2012 melarang ekspor rotan setengah jadi. Apa akibatnya bagi Sulawesi Tengah sebagai sala sentra yang melimpah produksi kayu rotannya itu? Propinsi itu hilang Uma dalam setahun Rp. 175 miliar! Karena kelebihan produksi itu tak bisa dikonversi jadi bernilai secara ekonomi (Mercusuar, 12/06/12). Di sisi yang lain mebel-mebel impor masuk dan merayu calon pembeli dalam negeri yang konsumtif karena tak kritis dan cenderung memilih barang karena status sosial.

Semoga ini tak terjadi pada Kakao, Kopra, Kopi, komoditi sexy Indonesia lainnya yang dibutuhkan lidah dan tubuh kita dan sebagian besar orang Eropa sebagai pasar pembeli, Ungke bagi Indonesia. Ini belum soal tambang yang merentang sejak Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Rote. Mulai dari tambang pasir dan batu untuk kebutuhan rumah tangga dan industri, hingga minyak, gas, dan batu-batu mulia yang harganya selangit. Jakarta mengatur Uma ke daerah-daerah dari tambang-tambang yang dibiayai pemodal asing itu dengan judul dana bagi hasil. Sudah rasa? Saya belum!

Selain karena kita sudah memproklamirkan diri sebagai bangsa berdaulat dan dunia mengakuinya, untungnya hari ini kita masih berdaulat karena punya kekayaan alam. Tapi benarkah kita benar-benar sudah berdaulat dan karenanya sejahtera atas semua soal di atas? Jawab saja sendiri!