Sunday, May 13, 2012

Negeri dengan Tujuh Matahari


Dari Pra Rilis Film Animasi Matahari karya Yusuf Radjamuda


“MATAHARI… anugerah yang terbuang percuma...” Sebuah penggalan lirik lagu karya Gitaris Adi Tangkilisan itu seakan memantik Yusuf Radjamuda, film maker dari rumah produksi Kafe Ujung (Komunitas Film Pendek Maesa Ujung) memproduksi karya film terbarunya berjudul Matahari.

Lagu yang juga berjudul Matahari itu, menjadi soundtrack film itu.

Ada yang baru dari Yusuf atau yang lebih dikenal dengan Papa Al alias Ucup ini. Film Matahari yang berdurasi 10 menit dan 5 detik itu bergenre animasi. Bersama Animator Udin Jahe, ide membuat film dengan isu matahari ini sudah ada sejak 2010.

Sebelumnya, Yusuf membuat film pendek berjudul Wrong Day yang pada Februari 2012 lalu diapresiasi oleh sebuah lembaga kebudayaan Jerman, Goethe Institute untuk ikut menghadiri helat akbar sebuah festival film internasional tahunan bergengsi di Berlin, Jerman.

Pada Kamis malam (29/03) bertempat di bioskop mini Kingdom yang berkapasitas maksimal 10 orang itu, Yusuf menggelar acara nonton (screening) terbatas dan sekaligus diskusi bagi debut karya animasinya itu.

Tak hanya lagu, gagasan film animasi ini menurut Yusuf lahir sebagai refleksi pada keseharian, ketika orang-orang hanya bisa mengeluh pada perasaan gerah karena sinar matahari di Palu selalu bikin resah. Petani, jam dinding, cangkul, tanaman jagung, ikon bulan dan matahari yang bersiklus, seakan menegaskan pesan refleksi Yusuf di filmnya itu. Dalam beberapa kesempatan Yusuf selalu saja menegaskan situasi cuaca di Palu tanah kelahirannya itu sebagai Land of the Seven Suns, negeri dengan tujuh matahari.

Kritik datang dari seorang peneliti etnomusikologi asal Argentina, Mayco Santaela. Film animasi seringkali mengidentikkan dirinya dengan simplisitas. Hal-hal yang ditampilkan selalu saja simpel, minimalis, tapi tidak lantas jatuh jadi sederhana dan banal, karena animasi sarat pesan.

Pada Matahari Mayco menangkap sebaliknya, rumit. Mungkin karena durasi yang masih panjang dan hal-hal tentang matahari belum tergali dalam. Ada contoh soal kenyataan di Eropa Utara, Skandinavia, musim ketika matahari tak terbit selama berbulan-bulan lamanya disana. Riset tentang perilaku mahluk hidup atas kenyataan siklus alam itu harusnya diperdalam, karena film Yusuf itu harapannya tak bertendensi sekadar jadi isu lokal khas negeri-negeri tropis tapi universal.

Di banyak daerah, matahari memang lantas menjadi energi terbarukan. Panel-panel solar yang mengkonversi sinar matahari jadi daya alternatif bagi kebutuhan dasar manusia diupayakan menjadi massal. Lewat kapasitasnya di film, Yusuf seakan meminjam pesan itu selain musik sebagai pembuka tulisan ini dan kesadaran semu orang Palu yang lebih suka mengeluh waktu matahari sedang lucu-lucunya saat siang sampai ketika petang menjelang.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih, telah berkunjung ke blog saya

Postingan Sebelumnya..