Sunday, May 13, 2012

KAPAL


BELUM lama ini saya datang ke kantor Pelni yang di jalan Kartini itu, untuk keperluan bahan tulisan panjang yang sedang saya siapkan, dan bukan untuk tulisan yang saya tuliskan ini. Saya bertanya ke informasi di kantor itu, apakah masih ada kapal penumpang yang melayani trayek dari Pantoloan ke Tanjung Priok (Jakarta), dan sebaliknya. Ternyata sudah tak ada. Sekarang paling jauh kapal Pelni yang ke Jawa hanya melayani sampai Surabaya.

Awal dasawarsa 90an hingga mula ketika dunia memasuki tahun-tahun pertama di abad milenium, kapal menjadi alat transportasi utama yang saya gunakan sebagai kelas menengah yang lebih condong ke kelas papa dari pada yang berpunya. Transportasi pulang pergi ketika kuliah memasuki masa liburan atau lebaran. Masa itu, jurang harga tiket antara kapal dan pesawat jauh menganga. Harga tiket pesawat lebih mahal dari harga tiket kapal.

Tak adanya kapal dengan trayek jauh itu sekarang sudah bisa dipastikan karena beberapa hal. Daya beli masyarakat yang meningkat dan maskapai penerbangan yang banyak, yang membuat harga tiket pesawat jadi kompetitif. Beda harga tiket dua moda transportasi itu sekarang hanya sedikit, sedang waktu tempuh antara keduanya bak jurang yang juga jauh menganga. Pesawat dalam hitungan jam, kapal berhari-hari.

Saya tidak ingin bernostalgia tentang kapal itu, seperti yang sudah saya sampaikan di awal. Saya ingin bercerita soal kapal dan pelayanan penumpang dan barang dalam skala Sulawesi Tengah sebagai propinsi. Mengutip istilah perhubungan dalam rute bus itu, antar kota antar propinsi. Kaltim, Sulsel, Sulbar, Gorontalo, Sulut, Sultra, Maluku Utara tak jauh-jauh amat, bukan?

Yang saya tahu memang masih ada kapal Pelni yang mengarungi Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI), baik yang melayani penumpang di sepanjang Selat Makassar hingga Laut Sulawesi, dan di perairan Teluk Tomini hingga Banggai. Tapi karena rutenya lumayan panjang, kapal-kapal itu jarak kedatangannya mingguan.

Baiknya ada kapal yang melayani penumpang dengan intensitas harian, termasuk membuka rute-rute baru perjalanan.

Sebagai contoh rute Pantai Timur sejak Moutong hingga Banggai yang melayani, misalnya, kota-kota ramai macam Tinombo, Ampibabo, Parigi, Poso, Touna, kepulauan Togean yang terkenal dengan wisatanya, Banggai, hingga Morowali.

Contoh lainnya, antara Palu ke Donggala (Banawa), ke Pantai Barat, hingga Toli-toli, dan Buol di perairan Teluk Palu dan sebagian Selat Makassar hingga Laut Sulawesi. Dulu masih ada kapal yang melayani dua wilayah yang terakhir saya sebutkan, yang lama tempuhnya sehari semalam.

Saya meyakini satu hal. Kapal-kapal penumpang dan juga barang yang dirintis untuk melayani rute di semua wilayah-wilayah itu akan membuka akses ekonomi dan lalu lintas jasa. Tentang dampaknya pada peningkatan kesejahteraan masyarakat di wilayah-wilayah itu, saya tak punya kompetensi untuk menjelaskan. Biarlah para ahli ekonomi yang menjelaskan. Saya hanya mengkhayal dan menuliskan khayalan.

Akhirnya, khusus Donggala, saya harus bernostalgia. Pelabuhan Donggala yang melegenda itu punya catatan panjang sejarah, betapa pelabuhan itu pada masa lampau menyimpan banyak cerita, paling tidak sampai akhir dekade 70an, yang menurut penulis buku-buku humaniora Jamrin Abubakar, saat itu lalu lintas barang dan penumpang masih ramai. Sekarang pelabuhan itu masih ada dan beberapa kapal yang hanya khusus untuk barang (industri, komoditi perkebunan) masih bersauh. Foto bertitimangsa 1937 koleksi ahli bahasa, Anton Abraham Cense, dan foto AW. Nieuwenhuis (1916) juga menyampaikan itu pada saya.


Foto Koleksi Anton Abraham Cense
(KITLV), landskap Kota Donggala, 1937
Pelabuhan Donggala 1916, foto koleksi
AW. Niuwenhuis (KITLV)

No comments:

Post a Comment

Terima kasih, telah berkunjung ke blog saya

Postingan Sebelumnya..