Sunday, May 13, 2012

AHISTORIS


Rumah HOS Tjokroaminto, rumah kost founding fathers
nasion Indonesia, Gang Peneleh, Surabaya

SAYA menyusuri salah satu kawasan di pusat kota Surabaya (03/04). Kawasan itu dikenal orang di kota itu dengan nama Peneleh.

Tapi orang-orang sepertinya hanya mengenalnya sebagai nama dan bukan sejarah. Dari supir yang taksinya saya naiki, tukang ojeg yang lagi nongkrong, penjual kaki lima, ibu-ibu rumah tangga, sampai pegawai puskesmas di kawasan itu saya tanyai perihal sama, nama sebuah Gang dan nama sebuah tokoh kebangsaan. Dan semua jawabannya sama, tidak tahu!

Dan jadilah saya terlihat di seputar kawasan itu seperti anak ayam yang kehilangan induk. Saya mencari alamat rumah Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto, pendiri organisasi di awal kebangkitan Indonesia, Sarekat Islam, sekaligus bapak kost dari para pendiri bangsa. Rumah sejarah itu beralamat di Gang Peneleh 7.

Agar tak terlalu kecewa, saya hanya berpikir mungkin saya salah “turun rumah” mitos yang hadir di alam bawah sadar sejak saya kecil bahwa tujuan kadang tak tercapai jika misalnya turun dengan kaki kiri duluan dan tanpa doa. Dampaknya, saya tak bertemu orang yang bisa menunjukkan alamat yang saya cari. Akhirnya dengan begitu ada semacam apologi bagi diri agar tak terlalu kecewa.

Perihal ketidaktahuan itu saya pikir bukan karena sesungguhnya orang-orang tidak tahu atau tidak mau tahu. Saya menemukan jawabannya setelah akhirnya menemukan rumah itu dari panduan seorang kawan di media sosial Twitter. Jawaban itu akhirnya saya dapatkan dari Eko Hadiratno (43 tahun), Ketua RT yang menurut saya bukan sembarang ketua RT. Dengan dedikasi tinggi, Eko melayani saya dengan sangat baik.

Eko dipercaya oleh ahli waris keluarga Tjokroaminoto dan Pemerintah Kota Surabaya untuk merawat sekaligus menjadi informan bagi kesejarahan rumah itu. Menurutnya, banyak orang tak tahu soal rumah Pak Tjokro itu pernah jadi rumah kost Soekarno ketika menjalani pendidikan SMAnya pada 1917. Bukan hanya Soekarno, tokoh politik lainnya seperti Musso dan Alimin yang komunis, atau Samanhudi dan Kartosuwiryo yang Islam pernah lalu-lalang tinggal di rumah kecil itu dan berinteraksi dengan Soekarno muda, yunior mereka.

Tjokro adalah guru politik dari nama-nama itu. Nama-nama yang memberi landasan awal filosofis nasion yang buminya kita pijak dan katanya sudah merdeka ini.

Ini karena usia kesejarahan tempat itu tak berbanding sama dengan catatan sejarah yang menyertainya. Saya tak ingin menyalahkan khalayak. Sejarah kita memang dikaburkan kepentingan penguasa pasca Soekarno, Soeharto dan Orde Baru. Sejarah bagi kita hanya menarik dibicarakan sebagai hapalan ketika sekolah atau justifikasi tindakan yang meotifnya penguasaan. Rumah itu oleh negara diakui sebagai tinggalan sejarah baru pada tahun 1996.

Sudah tak ada lagi kamar sempit dan gelap seperti yang diceritakan Soekarno pada Cindy Adams penulis buku biografinya yang terkenal, Penjambung Lidah Rakjat itu. Kamar di bagian belakang rumah itu telah jadi rumah tinggal orang karena sebelum 1996 tempat itu seolah tak bertuan.

Tapi sisa-sisa suasana kebatinan bangsa saat itu masih tertinggal di beberapa bagian di rumah itu. Ada kamar tidur Tjokro, ruang rapat tersembunyi di langit-langit atap, dan properti-properti tinggalan yang mengajak siapapun yang kesitu, seperti kembali ke lorong waktu ketika ide nasionalisme, Islam, komunis, saling berinteraksi.

Akhirnya, sejarah selalu aktual, menurut saya. Sebagai sebuah bangsa yang lagi-lagi katanya besar ini, sejarah harusnya jadi pijakan buat masa depan. Apa yang terjadi hari ini adalah refleksi dari apa yang terjadi di masa lalu. Dan ketika apa-apa yang terjadi itu tak dibaca sebagai refleksi, kesalahan dan kebodohan yang sama akan selalu berulang. Mungkin.

Ingatan saya balik ke kampung halaman. Suatu kali, saya iseng menanyai seorang pelajar di sebuah SMA di Palu. Saya bertanya apakah anak perempuan pelajar itu mengenal siapa Karanjalemba. Remaja perempuan yang cantik itu hanya bisa menggelengkan kepala, tapi akhirnya memberi juga jawaban ketika dia tahu saya akan beranjak meningalkannya. “Itu kan nama jalan yang ke Biromaru!”


Ruang rapat para aktivis
Syarikat Islam di plafon rumah
Kamar utama yang dikasih Tjokro ke BK
saat kawin dengan Utari, putrinya
Anak-anak kost itu
Eko Hadiratno, Ketua RT Gang Peneleh

No comments:

Post a Comment

Terima kasih, telah berkunjung ke blog saya

Postingan Sebelumnya..