Sunday, May 13, 2012

HBD


USIA kebudayaan sebuah wilayah jauh lebih tua dari sekadar definisi dari negara yang administratif pada hari ulang tahun wilayah itu. Apalagi wilayah yang berulang tahun itu propinsi yang terdiri atas kabupaten dan kota yang lintas kebudayaan.

Dalam konteks Sulawesi Tengah, kebudayaan itu merentang sejak Buol hingga Donggala, dari Banggai Kepulauan sampai Morowali.  Usianya uzur, beberapa catatan sejarah sejak abad 16 sejak pelaut-pelaut Eropa dan Amerika macam Francis Drake yang Inggris dan David Woodard yang Amerika datang berpetualang dan menuliskan catatan.

Di waktu yang tak jauh dari itu sebuah misi dakwah Islam sudah ada sejak Dato Karama dari tanah Andalas (Sumatera Barat) tiba, atau setelah beberapa abad berikutnya oleh duet misionaris Kristen dan antropolog juga sosiolog Kruyt dan Adriani. Memasuki modernitas Indonesia pasca politik etis Belanda, Sulawesi Tengah yang pada masa itu dikenal sebagai Midden Celebes mencatat perjalanan dakwah SIS Aljufri yang lebih dikenal sebagai guru tua.

Kesepakatan usia propinsi ini kemudian ditentukan dari soal-soal yang menurut saya masih kabur. Apakah oleh nomor undang-undang penetapannya (nomor 13 tahun 1964) atau tanggal ketika undang-undang itu ditetapkan (13 April 1964). Saya tak terlalu mementingkan soal itu. Saya hanya beranggapan kita belum benar-benar merasa tua dan memaklumi apa-apa yang ada pada diri kita hari ini.

Saya sering merasakan situasi itu. Saya menyebutnya hari jadi. Ketika dia datang dan selanjutnya melakukan refleksi, kelebat-kelebat pikiran datang, apa yang sudah saya lakukan, apa yang sudah dicapai dengan umur yang bertambah itu.

Muncul dialog-dialog dalam diri. Ah masih muda, belum terlambat. Ada yang memaknai hidup dimulai ketika sebagian besar orang malah mengganggap sebuah usia sudah memasuki masa senja.

Kebudayaan sebagai wujud dari dinamika sosial pun rasanya sama dengan laku orang-orang sebagai pelaku kebudayaan. Dalam konteks itu, sayangnya, saya beranggapan kita belum benar-benar tua dan memaklumi apa-apa yang ada pada diri kita hari ini.

Namanya saja anggapan. Bisa salah, tapi punya kemungkinan besar benar.

Ini soal capaian berpropinsi. Situasi di atas seolah mendapat respon dari Gubernur Sulawesi Tengah, Longki Djanggola. Saya menangkap satu kata kunci dari visi yang dirumuskan bagi propinsi yang ketika saya menuliskan catatan ini berusia 48 tahun. Kata kunci itu, sejajar. Kata kunci yang sekali lagi, seolah membaca situasi hari ini. Saya membacanya sebagai resolusi.

Kalau dilakukan jajak pendapat, apa harapan warga propinsi ini di hari jadinya. Saya berkeyakinan pada satu jawaban seragam: peningkatan kesejahteraan. Kalau pun ada jawaban lain bisa jadi berkutat pada soal-soal ketertinggalan: fasilitas dan layanan dasar publik.

Tantangan terbesarnya kedepan adalah membumikan visi sebagai mimpi bersama itu. Bahwa mimpi itu bukan sekadar mimpi gubernur atau tim sukses yang bersama-sama gubernur merumuskan mimpi itu. Visi itu tumbuh dalam bawah sadar warga yang berkartu tanda penduduk propinsi ini, sejalan dengan masing-masing visi yang lebih khusus tempat di mana orang-orang itu berdomisili di 10 kabupaten dan 1 kota ini.

Karena terbiasa dengan singkatan sebagai bentuk lain laku budaya yang melampaui batas-batas geografis, serba cepat, pendek, instan dan bisa kita rasakan hari-hari ini, akhirnya saya ingin mengucap, HBD Sulteng! Apa kepanjangan dari HBD? Yang tidak tahu kepanjangan ini, coba tanyakan orang-orang di sekitar.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih, telah berkunjung ke blog saya

Postingan Sebelumnya..