Friday, May 9, 2014

24 Jam Bersama Pallo

“SAYA mau main bass lagi,” katanya. Itu menjadi hal pertama yang saya syukuri hari itu (28/04). Laptop dia buka, headphone dia pasangkan ke telinga saya, dan delapan lagu yang baru direkamnya mengalun perlahan. Lagu-lagu dengan tempo yang tidak begitu cepat, tetapi juga tidak lambat. Jam 11 malam. Gerimis di Pejaten yang juga perlahan.   

Mei 2014 mungkin akan menjadi lembaran baru bagi karir bermusik Mohamad Rival Himran. Himran nama marga bapaknya, Man, yang begitu cepat meninggalkannya saat dia masih kecil. Seketika dia memikirkan suatu saat figur yang selalu dia rindukan itu hadir dalam proses kreatifnya. Entah kapan.

Tidak banyak yang tahu namanya Rival. Banyak yang tahu namanya Palo (ditulis Pallo), memanggilnya begitu. Tidak banyak juga yang tahu Palo dalam bahasa suku Kaili di Sulawesi Tengah artinya pantat.

Baru bukan hanya karena ada lagu-lagu baru, tetapi juga formasi baru. Album baru ini berjudul Wortel dan Brokoli. Terinspirasi dari dua anaknya yang sepasang, Rayyan dan Shesya, yang masing-masing dari mereka suka dua sayuran itu.

Dikonsep dari awal sebagai duo reggae dengan Rival sebagai former, rasa baru Pallo karena duet baru Rival, Agy Sheila. Dua album sebelumnya, Rival berduet dengan Lesa. Agy, kata Rival bukan orang baru dalam proses Pallo berkarya.

Setahun yang lalu, 26 Mei 2013, Pallo meluncurkan album Pasti Indah Santai Saja (PISS) di kampung halamannya, Palu. Tak tanggung-tanggung, acara bertajuk Reggaeducation itu dihadiri kolega-koleganya, Tony Q’ Rastafara, Ariyo Wahab (FOS Nation), dan wartawan majalah Rolling Stone, Wendy Putranto. Tanpa persiapan yang matang, pelaksanaan acara saat itu tak meninggalkan banyak cerita mengesankan kecuali catatan: kemampuan manajemen internal band dan faktor eksternal mengelola komunitas, khususnya reggae, termasuk strategi pencitraan media.

“Saya belajar dari proses-proses yang sudah lewat.” Itu menjadi hal kedua yang saya syukuri.       

Sudah jam 2 dini hari. Delapan lagu itu saya putar berulang-ulang. Rival ingin dapat komentar. Saya tahu dan sengaja bikin dia penasaran. Tak sabar, akhirnya dia minta satu kata saja. Saya jawab, datar!

Dan naik motor vespa tua membelah jalanan ibukota negara yang lengang menjadi begitu membahagiakan. Jakarta seperti milik kami berdua. Kami berpindah dari Pejaten ke rumah Rival di Mampang. Ingatan saya berpulang 12 tahun silam di Yogyakarta saat kami berproses sebagai band kere tapi aktif dan tanpa orientasi. Kami bernostalgia. Pleaseat, band yang meneguhkan komitmen Rival bermusik saat itu, vakum. Adi Tangkilisan memilih berhenti dan kuliah, saya memilih menikah, sedang Rival hijrah bermusik ke Jakarta. Semua genre musik telah dia lewati dalam proses itu sebelum pada akhirnya memilih reggae menjadi jalan hidupnya, yang menurut Rival karena dicekoki Tony Q.

Reggae telah menjadi akar (roots) bagi proses kreatifnya. Sebelum membentuk Pallo, Rival dikenal sebagai bassis band reggae Steven N’ Coconut Treez yang saat ini vakum. Spirit reggae telah dia pilih untuk lagu-lagu yang dia lahirkan. Tantangan menurutnya adalah mencari yang tak sekadar Jamaika, tetapi yang khas Indonesia, terlebih jika lahir dari kampung halaman. Tentang yang terakhir ini bisa ditemukan kental pada intro lagu As a Reggaeman. Tetapi saya pun berharap, lokalitas menjadi tak sekadar tempelan belaka. Delapan lagu baru Pallo mengantar tidur saya. Lagu terakhirnya memang buat tidur. Judulnya Ruang Abadi.  “Terlihat di langit awan gelap. Hujan rintik-rintik menyejukkan. Ruang abadi seakan berkata, hari ini, kita kan terlelap.”

Suara Shesya lamat terdengar. Melihat ada orang asing di ruang tamu yang tidur di sofa rumahnya, Shesya mengamati, curi-curi pandang. Masih pagi, masih mengantuk. Tetapi saya tak ingin melewatkan momen anak itu bermain dengan ayahnya yang bermain gitar. Suara Shesya direkam untuk lagu Ruang Abadi. Pagi itu mereka nyanyikan.



Saya mengulang pembicaraan semalam. Akhirnya saya bilang, paling suka lagu I’m Fallin Love. Ada suara Fairus A. Rafiq dan Tony Q di lagu itu. Bukan soal nama-nama itu. Saya suka liriknya. “I’m fallin love, beranilah karena cinta. I’m fallin love, kita kan bahagia.”

Eksperimen Rival kali ini pada materi di lagu-lagu baru Pallo menurut saya adalah menjadikan lagu-lagu itu tetap berakar pada reggae dan mengemasnya menjadi lebih lembut dari dua album Pallo sebelumnya. Mungkin untuk menjawab kebutuhan karakter suara Agy yang memang lembut. Nyaris tak ada dari delapan lagu itu yang bikin terkejut secara musikal, termasuk lagu Life Goes On yang dikemas ulang. Ini musik kamar, menurutku, yang akan diresapi dengan keintiman tertentu. Itulah makanya Rival mempersiapkan peluncurannya di taman. Beberapa kawannya yang ingin membantu mewujudkan gagasan itu berencana bertemu siang itu. Jam 12 siang. Dari Mampang kami bergerak ke Tebet. Jakarta jam begitu tentu sudah tidak selengang dan selapang malam. Gerah, macet.

Di sebuah kafe di tebet, diskusi lintas komunitas yang digagas Rival untuk menyepakati rencana peluncuran berjalan alot. Direncanakan akhir bulan Mei dan akan dilaksanakan di taman. Saya berbisik padanya. Tahun lalu peluncuran di kampung halaman itu biasa. Yang luar biasa kalau dilakukan di kampung orang. Sudah sore dan kami menyusun rencana baru menyambut malam. Hari itu Coki Sitompul, gitaris teman band Rival di FOS Nation berulang tahun dan akan di rayakan di sebuah bar di bilangan Menteng, Jakarta Pusat.





Bermusik dengan beragam genre menjadikan Rival kaya pengalaman dan pertemanan. Proyek bermusik dengan banyak musisi itu tak saja melahirkan pujian tetapi juga kritikan. Ini soal siasat bertahan di tengah industri kreatif. Bagi saya tentu tak soal, karena sisi positif dari situasi itu adalah referensi dan penjiwaan. Apalagi Rival yang awalnya lebih duluan mengenal rock dibanding reggae yang membentuk karakternya bermusik. Di panggung mini di bar itu, Rival jam session dengan Coki, Ariyo Wahab dan kawan sebandnya di FOS Nation. Hard to Handle milik Black Crowes memecah suasana bar. Gelas-gelas bir berdenting.   



Jam 11 malam. Acara bubar. Sebelum kami berpisah, Rival memberitahu single Reggae Music (merindukanmu) sudah diputar di beberapa radio di beberapa kota di Indonesia. Informasi itu dia dapatkan dari pemberitahuan-pemberitahuan di media sosial.



Akhirnya, saya bersyukur pada apa yang Rival alami sampai pada saat kami bertemu saat itu, karena saya membayangkan mengalami hal serupa yang dialami siapapun: proses. 

No comments:

Post a Comment

Terima kasih, telah berkunjung ke blog saya

Postingan Sebelumnya..